Perayaan Hari Ayah kemarin (21/6) menjadi istimewa bagi Webb Simpson dengan gelar PGA TOUR ke-7.

Oleh Helen Ross, PGATOUR.com

Baju berwarna kuning yang Webb Simpson kenakan pada hari Minggu (21/6) pada ajang RBC Heritage bukanlah pilihan busana yang kasual. Ia tak mengenakan warna tersebut supaya terlihat serasi dengan jaket merah bermotif kotak yang kerap diberikan kepada juara turnamen tersebut. Walaupun sudah tentu tampak serasi.

Simpson mengenakan warna kuning pada hari Minggu tersebut karena itulah warna favorit Sam, sang ayah. Dan dalam jadwal yang tak lazim akibat pandemi COVID-19, RBC Heritage, yang semula dibatalkan dan kemudian ditunda, akhirnya dituntaskan pada Hari Ayah.

“Pagi ini (kemarin) saya memikirkan beliau, dan ketika berada di lapangan golf, saya juga mengingat beliau,” ujar Simpson. “Saya masih merasakan ayah ada di sekitar saya dari berbagai kenangan. Ia menyukai golf. Dan dia pasti senang menyaksikannya hari ini.”

Begitulah. Putra Sam ini mengambil kendali pada RBC Heritage di sembilan hole terakhir. Ia membukukan birdie di lima dari tujuh hole terakhir untuk menuntaskan putaran itu dengan 7-under 64 dan meraih gelar PGA TOUR ke-7 dengan keunggulan satu stroke dari bintang muda Meksiko Abraham Ancer. Dengan kemenangan ini, Simpson melambungkan posisinya ke puncak klasemen FedExCup dan kini menempati No.5 di dunia.

Memang, U.S. Open, yang terpaksa digeser hingga September, biasanya menjadi turnamen yang berakhir pada perayaan Hari Ayah. Maka inilah kedua kalinya Simpson merayakan kemenangan pada hari istimewa ini—Sam masih menyaksikan momen ketika putranya menjuarai U.S. Open 2012 di Olympic Club.

“… ketika ia mengangkat telepon, ia tertawa. …. Dan kini tentulah saya merindukan tawanya hari ini.” — Webb Simpson.

“Saya tak pernah lupa menelepon ayah sambil berjalan menuju konferensi pers, dan ketika ia mengangkat telepon, ia tertawa,” kenang Simpson. “Itulah yang biasa ia lakukan ketika ia gembira, ia tertawa. Dan kini tentulah saya merindukan tawanya hari ini.”

Bagi Simpson, yang kehilangan sang ayah pada 2017, kemenangannya ini menjadi bagian dan hadiah dari kerja keras yang ia curahkan dalam tiga tahun terakhir setelah mendapati dirinya hanya menjadi penonton ketika pemain lain bermain dalam TOUR Championship dan masuk tim Presidents Cup dan Ryder Cup, seperti dirinya dulu.

“Saya benar-benar berhasrat untuk terus berada di jajaran 10 atau 15 besar di ranking dunia dan memiliki banyak peluang untuk menang, tak hanya dua kali setahun, tapi sebanyak mungkin,” sambung Simpson. “Itulah sebabnya saya melihat setiap aspek permainan saya, entah berlatih keras atau pendekatan mental, dan melihat apakah saya bisa bermain lebih baik lagi.

“Mungkin itulah yang terjadi tiga tahun lalu. Jadi, ya … senang sekali melihat kerja keras ini membuahkan hasil dan melihat bahwa proses yang saya jalani benar-benar berhasil. Tapi kami memang tak puas. Kami selalu mencari cara untuk lebih baik lagi, dan saya pikir masih banyak ruang untuk berkembang.”

Putaran final pada hari Minggu kemarin menciptakan suasana emosi yang menegangkan. Pada satu titik, tujuh pemain berjejalan di puncak klasemen. Perlombaan waktu juga ikut memanaskan persaingan pada Minggu yang terik itu. Penundaan akibat cuaca buruk selama 2 jam dan 35 menit membuat para pemain harus berlomba menuntaskan turnamen sebelum hari gelap.

Simpson, yang juga menjuarai THE PLAYERS Championship 2018 pada Hari Ibu, telah berada menjadi pimpinan klasemen pada putaran kedua dan ketiga. Tapi ia harus mengejar dari belakang di sembilan hole terakhir. Ia menyalip beberapa pemain, seperti Tyrell Hatton, Ancer, dan Joaquin Niemann untuk meraih kemenangan.

 

 

“Sejujurnya, 10 hole terakhir terasa tak pasti karena banyak pemain yang membukukan birdie, dan kami berusaha menuntaskan turnamen ini sebelum gelap,” tutur Simpson. “Makanya bisa menuntaskan permainan dengan lima berdie seperti itu terasa istimewa, terutama setelah apa yang terjadi kemarin dan sepuluh hole pertama, 11 hole hari ini tanpa berhasil memasukkan putt.

“Akhirnya, bisa melihat putt saya masuk pada saat yang krusial, saya pun bisa merasa puas menyaksikan bola (demi bola) bisa masuk.”

Kompetisi yang memanas seperti ini ternyata juga berpihak pada Simpson. Ketika melihat ada birdie yang dihasilkan pemain lain, ia pun paham bahwa ia harus bermain sedikit lebih agresif di sembilan hole pertama. Lalu ia memainkan sembilan hole terakhirnya dengan penuh otoritas dan percaya diri. Dan ia pun memetik buahnya.

“Ini jenis lapangan golf di mana Anda tak bisa memaksakan permainan Anda, tapi hari ini, setelah badai, semua permukaan permainan menjadi lebih lembut, angin pun tak banyak berembus, jadi kami bisa main agresif,” papar Simpson lagi. “Banyak pemain yang bisa mendapatkan birdie. Saya sendiri menjadi gusar melihat skor-skor tersebut. Tapi kemudian saya mulai tancap gas di hole 12-17. Dan pada akhirnya, itulah yang memberi perbedaan.

Dan Simpson, yang kini memiliki lima anak, akhirnya bisa merayakan Hari Ayah.