“Saya memulai karier saya melalui Asian Tour. Jadi, sangat menyenangkan bisa kembali menang di Tour ini.”

Itulah ekspresi Andrew Dodt usai memastikan kemenangan pertamanya dalam empat tahun. Meskipun dari segi nilai hadiah kemenangannya ini “hanya” memberinya US$54.000 atau setara dengan Rp769 juta, kemenangan yang ia peroleh di Sarawak pada hari Minggu (18/8) ini memiliki arti yang sangat penting bagi pegolf berusia 33 tahun ini.

Sepanjang tahun 2019 ini, Dodt hanya bermain dalam enam turnamen dengan satu kali gagal lolos cut pada ISPS Handa Victoria Open, dan harus mundur dari ajang European Tour di Maroko, Trophee Hassan II akibat cedera. Prestasi terbaiknya ia bukukan ketika finis T13 pada ajang 100th New Zealand Open pada bulan Maret 2019 lalu.

Bulan April 2019 lalu, ia harus menempuh perjalanan jauh dari Sydney ke Maroko untuk mengikuti Trophee Hassan II. Siapa yang mengira sesi kebugaran yang ia lakukan justru bukannya memulihkan kondisi fisiknya yang kelelahan akibat perjalanan jauh, melainkan justru memaksanya harus rehat.

“Mungkin cedera itu menjadi sebuah tombol reset yang bagus buat saya, mendorong saya untuk mengambil rehat sebelum kemudian kembali memainkan olahraga yang saya cintai ini. Kami mendapat bayi pertama hampir sepuluh bulan lalu, jadi saya bisa memberikan waktu yang berkualitas dengan keluarga,” tutur Dodt mengenang masa-masa pemulihannya itu.

Putaran final di Danau Golf and Country Club ini bisa dibilang cukup menyiksanya. Betapa tidak, Dodt menuntaskan putaran finalnya lebih awal dengan catatan skor 8-under 64 dan skor total 24-under 264. Ia harus menunggu grup terakhir menuntaskan permainannya untuk memastikan apakah skor yang ia kumpulkan itu cukup memberinya kemenangan yang ia butuhkan atau tidak.

Tekanan jelas tak hanya menjadi milik Dodt, tapi juga Richard T. Lee, yang terpaksa bermain agresif untuk mencegah kemenangan otomatis pegolf Australia tersebut. Lee butuh eagle, dan itulah yang ia dapatkan setelah pukulan keduanya mencapai jarak 8 kaki dari lubang, yang memudahkannya meraih eagle, sekaligus memaksa play-off. Pukulan yang Lee lakukan harus diacungi jempol, mengingat ia harus melakukan pukulan draw mengitari pepohonan untuk bisa mencapai green di hole 18 itu.

Pada babak play-off yang dimainkan sepanjang 517 yard di hole 18 par 5, kedua bola pemain ini sama-sama mencapai fairway. Dodt memutuskan untuk melakukan layup hingga sekitar 75 yard dari pin, sedangkan Lee memutuskan untuk mencapai green dalam dua pukulan. Bolanya melayang ke arah jalur cart, namun beruntung bisa memantul hingga bola berhenti di rough, 25 yard dari green.

Kedua pemain sama-sama mencapai green dalam tiga pukulan, namun putt birdie Lee justru membuat bola justru gagal masuk dan hanya menyentuh bibir lubang. Jarak dua kaki yang tersisa ternyata sudah lebih dari cukup bagi Dodt untuk memastikan kemenangannya.

Richard T. Lee harus menunda kemenangan pada pekan ini, namun ia mengaku puas lantaran bisa menuntaskan permainan reguler 72 hole dengan sebuah eagle. Sejauh ini, ia telah menjuarai ajang Solaire Open 2014 dan Shinhan Donghae Open 2017. Foto: Asian Tour.

“Dalam permainan reguler di hole ke-18 itu, saya menyisakan jarak sekitar 85 yard ke arah pin. Mungkin pukulan saya tidak cukup karena pada pukulan ketiga itu bola saya melawan arah angin. Jadi, saat play-off saya ingin melakukan pukulan ketiga sedikit lebih dekat agar bisa mendapatkan spin,” tutur Dodt.

“Lalu saat play-off itu, saya menyisakan jarak 66 yard, yang menurut saya sempurna karena saya bisa memukul bola tinggi dan berhasil membuat bola berhenti dua kaki sebelum lubang. Senang bisa kembali mengangkat trofi.”

Gelar Sarawak Championship pekan ini menjadi gelar Asian Tour ketiga dalam kariernya. Sebelumnya, ia telah menjuarai Avantha Masters 2010 dan True Thailand Classic 2015.

Meskipun harus mengakui kemenangan Dodt, Lee mengaku tidak terlalu kecewa. Pukulan istimewa yang ia lakukan di hole ke-72, yang membuahkan eagle dan memaksa play-off, sudah menjadi sesuatu yang istimewa baginya. “Bisa mengakhiri empat putaran dengan eagle tersebut membuat saya puas melihat performa saya pekan ini,” ujarnya. “Saya tak banyak berlatih sebelum datang ke sini, tapi bisa finis di tempat kedua, meski kalah play-off, tak memberi alasan buat saya untuk merasa keberatan.”

Bermain satu grup di belakang Micah Lauren Shin, yang saat memasuki hole 18 sudah mencatatkan skor total 23-under, Lee dan rekan mainnya Hung Chien-yao, saling menyemangati untuk mencatatkan birdie dan finis di tempat kedua karena mengira Micah bakal mencatatkan birdie di hole pamungkas itu.

Pegolf Amerika Micah Lauren Shin finis di tempat ketiga setelah menuntaskan 18 hole dengan skor total 23-under 265. Foto: Asian Tour.

“Dia gagal mendapat birdie, jadi saya memutuskan untuk mencapai green dengan 3-wood. Pukulan itu seolah penentu menang atau kalah dan saya senang bisa membuat eagle!” tandasnya.

Adapun upaya Jazz Janewattanond untuk memenangkan turnamen ini dan mendorong posisinya untuk masuk delapan besar dalam klasemen Tim Internasional untuk Presidents Cup harus kandas lantaran pada hari terakhir ia hanya bermain 3-under 69 dan skor total 268.

Sementara itu, perjuangan satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa, Danny Masrin, akhirnya berakhir dengan catatan skor yang sama dengan putaran pertama yang ia mainkan. Pada putaran final ini, Danny kembali bermain dengan skor 5-under 67 setelah mendapat tujuh birdie dan dua bogey. Dengan skor total 15-under 273, berkat bermain 67-68-71-67, ia pun finis di peringkat T21.

Finis di posisi ini jelas bukan sesuatu yang ia harapkan, mengingat Danny membutuhkan poin ranking dunia guna mendongkrak peringkatnya demi menembus Olimpiade Tokyo 2020.

Ia kini mendapatkan salah satu peluang terbaiknya lagi pada pekan ini, ketika kembali bertanding ke Damai Indah Golf BSD Course untuk gelaran Ciputra Golfpreneur Tournament presented by Panasonic. Ajang Asian Development Tour ini dimainkan di lapangan yang sudah ia kenal baik. Ia juga nyaris meraih kemenangan di sini pada edisi tahun lalu, kalau saja tidak karena ketangguhan Amir Nazrin, Poom Pattaropong, dan Miguel Angel Carballo, yang bermain satu stroke lebih baik darinya.

Leave a comment