Sosok yang telah lama berkompetisi pada PGA TOUR ini telah memasuki usia emas dengan menargetkan lebih banyak gelar.

 

Oleh Chris Cox/PGA TOUR

 

Rumah Jim Furyk di daerah Riverside, Jacksonville hanya berjarak sekitar 30 menit kea rah utara dari World Golf Hall of Fame. Tapi dia hanya dua kali mengunjungi musem tersebut.

Kesempatan pertama ia lakukan tahun 2012. Saat itu ia menyaksikan Phil Mickelson, sahabatnya, dinobatkan untuk masuk ke jajaran legendaris itu.

Empat tahun kemudian, ia kembali ke sana. Kali ini ia menyumbangkan topi, bola, dan sarung tangan yang ia kenakan ketika membukukan skor 58 pada ajang Travelers Championship.

Tampaknya kunjungan ketiga—yang bersifat permanen—berpeluang terjadi.

Setelah berkarier hampir tiga dekade pada PGA TOUR, Furyk mengemas 17 kemenangan, termasuk satu gelar Major pada U.S. Open 2013, dan mengumpulkan lebih dari US$71 juta. Tambahkan dua putaran di bawah skor 60 dalam rentang kariernya itu, dan pegolf asal Pennsylvania ini bakal menempatkan dirinya bersama Phil sebagai bagian dari World Golf Hall of Fame.

”Saya memikirkannya juga karena kerap diingatkan lewat berbagai wawancara dengan media,” ujar Furyk sambil tertawa. ”Yang bisa saya lakukan untuk memenuhi skenario itu ialah terus main bagus, dan semoga hal itu terwujud. Saya tak sering ke sana, tapi tempat itu memang mengagumkan. Saya tak ingin berdiri terus di sana, tapi pasti terhormat rasanya jika suatu hari hal ini bisa terjadi.”

”Begitu usia saya bertambah, saya menjadi lebih menghargai semua pencapaian saya.”

Furyk memang belum banyak mengambil waktu untuk melihat kembali semua pencapaian yang ia raih dalam kariernya yang panjang itu. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, ketika ia memasuki fase kehidupan yang baru, kenangan indah yang ia alami kembali menyeruak.

”Yang jelas kenangan itu muncul lebih dari ketimbang 10, 15, atau 20 tahun lalu,” ujarnya. ”Sebagai pemain muda saya tidak pernah berhenti dan melihat segalanya. Bahkan setelah meraih banyak gelar, kegembiraannya hanya sekejap dan saya harus kembali berlatih. Tapi begitu usia saya bertambah, saya menjadi lebih menghargai semua itu.

Pertengahan bulan Mei lalu, Furyk merayakan ulang tahunnya ke-50. Dan bagi atlet golf, angka tersebut kerap dipandang sebagai jalur perayaan ritual yang membawa karier seorang pemain dari PGA TOUR ke PGA TOUR Champions.

Furyk sendiri berniat untuk menerima tantangan menghadapi Bernhard Langer dan Ernie Els. Bahkan ia menghadirkan turnamen ke Timuquana Country Club di Jacksonville pada tahun 2021 nanti. Turnamen itu bernama Constellation Furyk & Friends.

Meski demikian, ia masih menanti momen-momen terakhirnya pada Tour yang telah menjadi rumahnya selama 27 tahun ini. Ia jelas masih belum bakal meninggalkan semua itu.

 

im Furyk berpose sebelum menerima penghargaan Payne Stewart Award pada World Golf Hall of Fame, 9 Agustus 2016 lalu. Foto: PGA TOUR.

 

”Sesukses apa pun Anda, pastilah menginginkan sesuatu yang lebih lagi,” ujarnya. ”Ada masanya untuk merenungkan perjalanan ini. Saya pikir inilah sifat saya, dan sifat orang lain, pada satu titik. Tapi ketika masih menjadi pemain debutan, saya tak pernah membayangkan memiliki 17 gelar dalam 27 tahun ke depan dan masih terus bermain.

”Saya merasa bersemangat melihat pencapaian saya. Tapi saya rasa masih ada yang tersisa buat saya di sana (PGA TOUR).”

Hasil permainannya belakangan menunjukkan hal itu. Dia memang sempat tiga kali gagal lolos cut ketika PGA TOUR menghentikan kompetisi lantaran pandemi COVID-19. Tapi pegolf yang menyandang gelar Payne Steward Award ini finis T17 pada Safeway Open dan T23 pada The RSM Classic pada jadwal musim gugur lalu.

Jeda kompetisi ini nyaris memaksa Furyk untuk ”berhenti dan melihat ke belakang”, mau tidak mau. Dalam beberapa pekan terakhir, ia merenungkan kemenangan pertamanya—Shriners Hospitals for Children Open 1995—dan yang terakhir, dua dekade kemudian, pada RBC Heritage 2015.

”Saya masih pemain debutan ketika membuktikan bisa berkompetisi, ketika meraih 10 besar pertama dan peluang untuk menang, dan akhirnya merasa di sinilah tempat saya,” kenangnya. ”Itulah pertama kalinya saya berpikir, ’Mungkin saya bisa melakoni karier ini.’ Bagi anak muda, itulah impian saya, sesuatu yang diharapkan mungkin terwujud sehingga memberi banyak waktu dan usaha untuk melakukannya, tapi saya pikir Anda takkan pernah tahu sampai berada di sana dan mengalaminya sendiri.”

”Dalam olahraga ini, Anda tak bisa bersantai terlalu lama dan tak boleh terlalu berpuas diri.”

”Terkadang olahraga ini bisa menjadi kejam, dan bisa lekas melambungkan Anda. Saya mengingat hal ini sepanjang karier saya dan berusaha untuk berlatih keras.”

Sulit untuk menolak pendekatannya itu, mengingat 17 kemenangan yang ia raih. Plus dua putaran di bawah 60. Hanya ada 11 skor di bawah 60 yang terjadi sepanjang sejarah PGA TOUR, dan Furyk menjadi satu-satunya yang mampu melakukannya dua kali.

Seperti sudah menjadi kebiasaan, Furyk tak menyimpan satu pun mililknya dari kedua hari bersejarah itu untuk dirinya sendiri. Ia malah mengirimkan semuanya dalam dua kali perjalanannya ke Hall of Fame. Dan ia melakukan perjalanan keduanya ke sana hanya beberapa pekan setelah melakukan sesi tanya-jawab dengan para penggemar.

Seperti yang ia sampaikan, dia bukan tipe yang senang melakukan refleksi—baginya tindakan itu mesti dilakukan lain waktu. Saat ini, ia menargetkan lebih banyak kemenangan. Satu-satunya pertanyaan yang harus ia jawab ialah di Tour mana kemenangan tersebut bakal ia raih?

”Dalam olahraga ini, Anda tak bisa bersantai terlalu lama dan tak boleh terlalu berpuas diri,” jawabnya. ”Ada begitu banyak bakat bagus dan terlalu banyak pemain bagus, dan Anda bisa tersingkir seketika. Saya menikmatinya. Pada satu sisi saya selalu berlatih untuk menjadi lebih baik. Saya pikir sudah jadi sifat kita juga untuk menjadi sedikit rakus (untuk urusan ini).”