Lama tak menikmati kemenangan dalam penantian akan gelar PGA TOUR pertama dalam kariernya, Tommy Fleetwood membutuhkan kemenangan pada ajang besar untuk mengubah kariernya.

Oleh Mike McAllister

Siapa yang tidak menyukai sosok Tommy Fleetwood? Ia memiliki rambut panjang bak bintang rok, namun kepribadian yang rendah hati, khas seorang penyayang keluarga. Tampaknya ia juga memiliki prioritas yang tertata, tidak menganggap dirinya terlalu serius sampai kehilangan sentuhan dengan para penggemarnya. Dan ia juga memainkan golf dengan level kelas dunia, namun dengan nuansa yang luar biasa keren.

Bahkan hole-in-one sekali pun tidak mengubahnya. Cobalah saksikan reaksinya yang santai pada World Golf Championships-Dell Technologies Match Play, ketika ia hanya mengangkat bahu setelah hole-in-one yang membantunya memberi kemenangan di babak 16 besar.

”Itulah hole-in-one terkeren yang pernah saya saksikan,” penyiar televisi terdengar menggambarkan peristiwa tersebut.

Namun, yang jelas, pegolf Inggris ini takkan menjadi pegolf favorit yang akan dielu-elukan ketika kompetisi Ryder Cup berlangsung tahun ini di Amerika Serikat, mengingat ia akan mewakili Tim Eropa. Mengingat duetnya bersama pegolf Italia Francesco Molinari yang tak terkalahkan pada Ryder Cup 2018 lalu, ia akan menjadi target di negeri yang kali ini takkan bersahabat baginya.

Meski demikian, tidak ada yang menolak untuk mendukung Tommy Fleetwood. Dia sosok yang menyenangkan untuk diajak nongkrong. Senyuman selalu menghias wajahnya dan Anda juga sadar bahwa Anda pun akan tersenyum jika berada di dekatnya. Ayolah, ini ’kan Tommy Fleetwood! Anda pasti akan menikmatinya.

”Dalam kerangka yang lebih besar, menang di Amerika menjadi sesuatu yang saya butuhkan ….”

Meski demikian, karena kita ingin dia meraih sukses, rasanya sulit tidak merasa gelisah dengannya saat ini.

Meskipun ia selalu berada di jajaran 20 besar dunia sejak 2017, ia belum meraih kemenangan pada kancah PGA TOUR. Ia belum menang sekalipun dalam 69 pertandingan (dan tanpa kemenangan dalam 81 ajang PGA TOUR dalam kariernya). Ia nyaris menang beberapa kali, termasuk ketika finis di belakang Brooks Koepka pada U.S. Open 2018. Toh hingga awal Mei 2021 lalu, pintu kemenangan itu masih tertutup baginya di Amerika.

”Menurut saya orang-orang berbohong kalau mereka bilang menang di sini tidak menjadi langkah selanjutnya buat saya,” ujar Fleetwood belum lama ini. ”Ya, saya belum pernah melakukannya. … Dalam kerangka yang lebih besar, menang di Amerika menjadi sesuatu yang saya butuhkan dan saya pernah memiliki kesempatan (melakukannya) dan terkadang orang lain main lebih baik daripada saya dan terkadang ada kalanya juga saya melakukan pukulan yang salah pada saat yang salah juga. Begitulah adanya.”

Menyinggung penampilannya pada ajang Major, pintu kemenangan itu pun masih tertutup baginya. Sejauh ini ia telah memainkan 22 ajang Major, setidaknya hingga Masters 2021 lalu, dan hanya tiga kali finis di jajaran lima besar.

Memang, ia telah meraih lima kemenangan pada European Tour, namun prestasi ini bahkan tidak mengurangi kekeringan yang ia alami saat ini. kemenangan terakhirnya terjadi pada ajang Nedbank Golf Challenge di Afrika Selatan tahun 2019. Sejak saat itu, ia telah tampil dalam 30 turnamen di seluruh dunia (setidaknya hingga ajang Wells Fargo Championship 2021 pada PGA TOUR) dan tanpa menghasilkan kemenangan.

 

Kemenangan pada ajang Major bakal mengubah karier Tommy Fleetwood ke level yang baru. Foto: Getty Images.

 

Bulan Januari lalu usianya genap 30 tahun. Jadi, meskipun masih memiliki pesona kaum muda, ia telah mencapai porsi pertengahan dari karier profesionalnya. Ia sadar, inilah saatnya untuk mengambil langkah selanjutnya.

Saat melihat kembali penampilannya tahun 2020, Fleetwood mengeluhkan kegagalannya memanfaatkan sejumlah kesempatan pada ajang The Honda Classic pada PGA TOUR, termasuk beberapa turnamen di Portugal dan Skotlandia pada European Tour. Ia mengakui permainannya membuang beberapa pukulan yang seharusnya bisa memberi perbedaan.

”Tahun lalu menjadi tahun yang mengecewakan di lapangan,” tulis Fleetwood dalam website-nya. ”Tak ada cara lain untuk menggambarkannya. Ada beberapa hal sehingga saya mengalami kesulitan, tapi sisi positifnya, saya tahu apa yang harus saya latih dan hal itu bukan sesuatu yang dramatis. Saya perlu melakukan perubahan marginal, yang berarti saya bisa bermain maksimal lebih sering dan mengubahnya menjadi lebih banyak kemenangan.”

Mungkin bahkan Fleetwood sendiri menjadi sedikit tak sabar. Kabar baiknya ialah ia tidak hilang harapan. Ia masih tetap percaya diri bahwa pada akhirnya ia akan kembali ke jajaran para juara.

Namun, hal tersebut bukanlah perkara kapan, melainkan pada turnamen apa. Ia pemain elite dan ia tahu agar bisa mempertahankan statusnya dan memperkuat reputasinya, ia harus menang pada ajang besar. Artinya, ia harus berfokus pada ajang Major.

”… tak diragukan lagi, ajang-ajang Major itu menjadi turnamen-turnamen penentu karier; menurut saya semua orang selalu menantikannya.”

”Ajang Major menjadi pengubah karier Anda,” ujar Fleetwood. ”Dan saya pikir tahun ini saya merencanakan jadwal sedikit lebih banyak di sekitar Major daripada beberapa tahun lalu, jadi saya akan berusaha dan mempersiapkan diri, sesuai dengan cara yang menurut saya terbaik bagi saya, dan menyiapkan diri untuk bermain bagus pada turnamen-turnamen tersebut.

”Namun, tak diragukan lagi, ajang-ajang Major itu menjadi turnamen-turnamen penentu karier; menurut saya semua orang selalu menantikannya.

”Memang saya beberapa kali finis di tempat kedua, juga lima besar. Beberapa kali saya ada dalam posisi bersaing setelah putaran kedua atau ketiga, dan saya pikir yang ingin saya terus lakukan ialah kembali ke kata konsistensi, terus berada di jajaran atas dan terus berada di posisi serupa dan main bagus, dan jika terus melakukan hal yang benar, terus meningkatkan permainan sedikit demi sedikit, semoga ini menjadi perkembangan yang alami dan saya menjuarai Major.”

Meski sempat mencatatkan hole-in-one keduanya ada Masters bulan April 2021 lalu, ia tidak berada dalam persaingan, finis T46. Namun, Augusta National memang tak pernah memberinya hasil yang bagus. Ia tak pernah finis 15 besar dalam lima partisipasinya di sana.

PGA Championship masih sedikit lebih baik baginya. Tahun lalu ia finis T29 sebagai hasil terbaiknya dalam enam percobaan. Ia berharap Ocean Course bakal sesuai baginya. Sembilan tahun lalu ketika lapangan ini menggelar ajang Major tersebut, Rory McIlroy menang delapan stroke setelah membukukan 13-under. Fleetwood masih membutuhkan dua tahun lagi untuk memulai Major pertamanya.

”Ada begitu banyak pemain hebat dalam sejarah golf yang belum memenangkan Major, …, Anda harus melihatnya dalam suatu perspektif, dan ajang Major tak selalu bisa dimenangkan.”

Ia suka jika ajang Major dimainkan di lapangan yang secara umum lebih sulit, dan berharap Kiawah Island memberinya ujian yang sulit.

”Saya pikir ada banyak lapangan yang sangat menantang pada Tour, dan saya pikir standard golf belakangan ini dan jumlah pemain yang memainkannya memberikan standard yang tinggi, jadi Anda mendapatkan lapangan yang sulit dan masih harus mencatatkan skor yang bagus,” ujarnya, ”tapi Anda juga mendapatkan lapangan yang mudah dan Anda harus memainkan banyak under. Saya tahu. Saya menikmati berbagai tantangan yang dihadirkan oleh sebuah ajang Major”

Tantangan baginya, seperti halnya para pegolf top yang ingin naik level, ialah menjuarai salah satu ajang tersebut. Rambut panjang, kepribadian yang luar biasa, perilaku yang disenangi penggemar, semuanya bagus. Namun, performa pada ajang-ajang golf terbesarlah yang memberi momen penentu bagi seorang pemain dan kariernya.

”Ada begitu banyak pemain hebat dalam sejarah golf yang belum memenangkan Major,” ujar Fleetwood. ”Saya tidak bilang kalau saya tidak peduli karena saya sangat memedulikannya, tapi tahulah, Anda harus melihatnya dalam suatu perspektif, dan ajang Major tak selalu bisa dimenangkan.

”Namun, pastilah saya akan berusaha sekeras mungkin.”