Bukan tanpa alasan jika PGA TOUR kini mengusung slogan “Live Under Par”. Slogan ini menegaskan kualitas permainan mereka yang bermain pada PGA TOUR. Dan slogan itu sekaligus menunjukkan bahwa Anda harus benar-benar bermain di bawah par jika ingin bersaing dan masuk dalam perebutan gelar. Persis itulah yang kita lihat pada Tony Finau ketika ia membukukan 2-under 70 dan mempertahankan posisinya di puncak klasemen pada World Golf Championships-HSBC Champions hari ini (26/10).

Tak hanya hasil dari kumulatif tiga putaran, Finau menunjukkan permainan istimewa di Sheshan International Golf Club. Ia menjadi satu-satunya pegolf yang berhasil membukukan birdie di tiga hole terakhir pada putaran ketiga tadi.

Finau sempat meraih birdie di hole 2, namun mendapat dua bogey di hole 3 dan 5. Ia kembali mendapat bogey di hole 12, sebelum kemudian bangkit di hole 13 dengan mencatatkan birdie kedua baginya.

Meskipun kembali mendapat birdie di hole 16, ia masih tertinggal dua stroke dari sang juara bertahan Justin Rose, yang melejit berkat enam birdie dan satu bogey hingga ketika hendak memainkan hole 17.

Namun, ketika Rose justru mendapatkan double bogey di hole tersebut, Finau malah nyaris melakukan hole-in-one. Birdie di hole itu membuat Finau berbalik mengungguli Rose dengan saty stroke. Dan ketika ia kembali mendapat birdie di hole pamungkas, Rose malah mendapat bogey yang membuat selisih skor menjadi 3 stroke untuk keunggulan bagi Finau.

Namun, keunggulannya ini tak bisa membuatnya merasa aman. Tidak jika ada pemain yang berhasil mengejar ketertinggalan delapan stroke dan menjadi juara pada edisi tahun lalu. Dan bukan hanya Rose yang berniat untuk mengejarnya. Rookie of the Year PGA TOUR 2016-2017 Xander Schauffele dan juara The Masters 2018 Patrick Reed juga hanya berjarak tiga stroke darinya. Sementara pemain, seperti Andrew Putnam dan Tommy Fleetwood juga cuma berjarak lima stroke. Belum lagi pemain, seperti Kiradech Aphibarnrat yang besok (28/10) akan bermain dengan semangat sebagai satu-satunya wakil Asia yang masih berpeluang menang.

“Hari ini saya tidak menyerah dan mentalitas saya memang selalu seperti itu, ….” – Tony Finau

“Mereka semua akan mengejar saya besok. Masih ada 18 hole lagi yang mesti dimainkan,” ujar Finau, paham akan posisinya.

“Hari ini saya tidak menyerah (setelah tertinggal dua stroke dari Rose) dan mentalitas saya memang selalu seperti itu, terus berjuang hingga saat-saat terakhir dan kita lihat bagaimana hasilnya setelah memainkan 72 hole besok.”

Tentu saja ia juga layak merasa puas dan bangga dengan menjadi satu-satunya pemain yang mendapat birdie di hole 16, 17, dan 18. Ketiga birdie tersebut bakal memberikan momentum baginya untuk memulai persaingan babak akhir.

“Saya selalu melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan, dan jelas akan ada kesempatan besok, dengan 18 hole yang mesti dimainkan,” tandasnya.

Meski tertinggal tiga stroke, toh Rose masih menjaga peluangnya untuk menorehkan sejarah. Ia masih berkesempatan untuk menjadi orang pertama yang memenangkan WGC-HSBC Champions dua kali berturut-turut, dan menjadi pegolf kedua yang pernah memenangkan dua gelar World Golf Championships berturut-turut setelah Tiger Woods.

“Saya bermain dengan baik. (Tapi) keliru menempatkan bola di posisi yang tak semestinya di hole 17 dan bola saya berada di area yang buruk. Anda tak bisa menge-drop bola, Anda tak bisa melakukan chipping. Tidak bisa melakukan apa-apa,” Rose mengisahkan apa yang terjadi di hole 17, yang membuat keunggulannya hilang.

Tapi ia masih mengusung semangat positif untuk memainkan 18 hole terakhir besok.

“Begitu bola melambung di atas pepohonan, bola itu seakan-akan bergerak semaunya sendiri.” – Xander Schauffele

“Tiga stroke di belakang (Finau) menuju besok, sesuatu yang mestinya tidak demikian dengan beberapa hole yang tersisa. Tapi jelas saya masih memiliki peluang. Dengan hanya ada satu pemain di depan, Anda berpeluang untuk main bagus besok. (Saya akan) bermain dengan skor 60-an dan melihat apakay saya bisa mengehar Tony.”

Sekali lagi angin yang sulit dibaca arahnya membuat banyak pemain kewalahan. Schauffele yanh ikut berada di tempat kedua mengungkapkan bagaimana mereka tidak bisa merasakan bagaimana embusan angin di permukaan, dengan pepohonan rimbun di sekitar mereka.

“Begitu bola melambung di atas pepohonan, bola itu seakan-akan bergerak semaunya sendiri. Tapi saya senang bisa naik ke jajaran atas,” kata Schauffele.

Patrick Reed sendiri mengaku puas dengan permainan 2-under 70 miliknya. Meskipun berharap mencatatkan birdie lebih banyak daripada hanya enam, dengan empat bogey, Reed menilai hal yang terpenting ialah bagaimana ia masih berada dalam zona persaingan.

“Segalanya masih mungkin terjadi besok,” ujarnya.

Anda benar Tn. Reed, perjalanan masih 18 hole lagi.

Leave a comment