Feng Shanshan mengincar kado ulang tahun lewat kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo pekan ini.

Meraih medali, meskipun perunggu, jelas merupakan prestasi istimewa pada ajang olahraga terbesar di dunia, Olimpiade. Itulah yang Feng Shanshan rasakan hingga saat ini mengenai prestasinya di Rio lima tahun silam itu. Ia bahkan menganggapnya sebagai pencapaian paling penting dalam kariernya yang panjang. Kini ia berniat mencapai prestasi terbaik ketika tampil dalam Olimpiade Tokyo 2020, yang ia anggap bakal menjadi kesempatan terakhir baginya.

Mantan pegolf No.1 Dunia dan pemegang sepuluh gelar LPGA ini akan membela China bersama rekan senegaranya, Lin Xiyu di Kasumigaseki Country Club mulai Rabu (4/8) besok. Ia sendiri akan bermain dalam satu grup dengan pegolf Korea Park Inbee, yang akan mempertahankan medali emasnya, serta Lydia Ko dari Selandia Baru yang meraih medali emas di Rio 2016. Lalu masih ada juga pegolf No.1 Dunia Nelly Korda yang menjadi salah satu pemain favorit pada kompetisi golf wanita pekan ini.

Feng jelas memiliki motivasi ekstra untuk kembali meraih medali. Prestasi podium pekan ini akan memberinya kado ulang tahun yang istimewa, melengkapi medali perunggu yang ia simpan dengan baik di rumahnya, di Guangzhou.

”Dari semua pencapaian saya, bisa saya bilang medali pada Olimpiade sangatlah spesial karena meskipun saya sudah menjadi juara Major, tapi saya berpikir, kami punya lima Major tiap tahun, dan dalam empat tahun ada 20 kesempatan memenangkan Major. Jadi, bisa saya bilang lebih sulit memenangkan medali Olimpiade. Prestasi itu menjadi momen terpenting atau yang paling berkesan dalam karier saya,” ujar Feng.

Sebelumnya, ia juga sempat mengungkapkan rencananya untuk pensiun, sembilan tahun sejak pertama kalinya ia meraih gelar LPGA dan Major pertamanya pada ajang KPMG Women’s PGA Championship 2012. Pencapaian itu menjadikannya pegolf China pertama yang menjuarai Major. Dan dengan tiga finis di lima besar dari delapan turnamen yang ia ikuti musim ini, Feng merasa yakin dapat bersaing di East Course Kasumigaseki Country Club.

 

Lin Xiyu pada Olimpiade Rio 2016.
Lin Xiyu telah memiliki pandangan yang lebih jernih tentang kariernya dan siap meraih prestasi lebih baik pada Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Tristan Jones/IGF.

 

”Saya tidak segugup seperti sebelumnya. Saya amat gugup, seperti di tee pertama dan rasanya saya tidak bisa mengingat apa-apa. Saya sadar kalau saya sudah beralan ke fairway di hole pertama, jadi saya tidak ingat soal pukulan tee pertama itu,” tutur Feng.

”Saya tidak bisa bilang kalau saya tidak dalam kondisi terbaik dalam karier saya, tapi saya sangat senang bisa kembali pada tahun ini, memulainya pada Major, bisa finis di tiga besar, dan beberapa kali finis di lima besar setelah itu. Jadi, saya sangat yakin pada permainan saya, saya hanya ingin menikmati dan rileks sepanjang hari dan sepanjang pekan. Saya yakin ini akan menjadi Olimpiade terakhir saya. Sepertinya saya tidak akan mengikuti Olimpiade lainnya, jadi lebih baik saya menikmati (kesempatan) kali ini.”

Feng dijadwalkan memulai perjuangannya pekan ini bersama Park dan Ko, sekaligus menjadi grup pamungkas yang layak disaksikan, mulai pukul 08:41 atau 06:41 WIB. Sedangkan pegolf No.1 Dunia Nelly Korda, pegolf No.2 Dunia Ko Jinyoung, dan pegolf No.11 Dunia Nasa Hataoka yang menjadi andalan tuan rumah juga bakal memikat perhatian ketika memulai putaran pertama pada pukul 08:14 atau 06:14 WIB.

”Kami bermain bersama pada U.S. Open tahun ini dan itu pertama kalinya kami berada pada satu grup yang sama dalam sebuah turnamen setelah Rio. Sangat menyenangkan, saya menikmatinya dna yakin pada putaran pertama, kami bertiga akan menikmati momen ini dan semoga semua kami bisa menampilkan permainan terbaik kami,” ujar Feng lagi.

Adapun rekan senegaranya, Lin, berharap bisa mencapai hasil lebih baik ketimbang ketika ia finis T38 lima tahun silam. ”Tahun lalu saya sangat siap, tapi sayangnya COVID019 terjadi, tapi saya pikir ketika saya harus menjalani karantina di Orlando, saya memiliki banyak waktu senggang untuk memikirkan keseluruhan karier saya, sekadar sedikit melihat ke belakang, tapi juga berbicara pada diri sendiri dan saya jelas memiliki pikiran yang lebih jernih,” tutur Lin, yang menjadi salah satu pemain yang mencatatkan hole-in-one di Rio 2016.

”Saya sangat senanga bisa menjadi bagian dari tim karena pada tahun 2017 saya kehilangan kartu Tour saya. Ini mungkin ajang terbesar yang pernah ada dalam karier saya.”