Kemenangan Dustin Johnson pada THE NORTHERN TRUST membuatnya kini merengkuh takhta teratas FedExCup.

Oleh Jim McCabe, PGATOUR.com

Kecakapannya melakukan pukulan penuh akurasi yang luar biasa pada ajang THE NORTHERN TRUST pekan lalu sempat terpaksa terhenti oleh gangguan cuaca di TPC Boston pada putaran final hari Minggu itu. Badai itu mungkin menjadi fenomena alam yang mengesankan, tapi hanya berlangsung selama 75 menit. Dan fenomena alam ini sama sekali tak menghambat performa penuh dominasi yang ditampilkan Johnson selama empat hari pada ajang pembuka FedExCup Playoff ini.

Ketika hari mulai gelap, hujan rintik masih turun, dan petang mulai menyapa TPC Boston, Johnson kembali untuk menambah tujuh stroke lagi pada performa mengagumkan yang nyaris mencatatkan rekor baru dalam banyak hal.

Bermain tanpa bogey dengan skor 8-under 63, Johnson menuntaskan ajang ini dengan total 254 stroke, hanya satu stroke di belakang rekor skor total 72 hole, dan mencatatkan 30-under, yang lagi-lagi hanya satu stroke dari rekor empat putaran pada PGA TOUR. Dengan permainan yang juga mengagumkan yang ditampilkan oleh Harris English (64-66-66-69), Johnson memainkan peran yang pernah dilakukan oleh Tiger Woods pada masa jayanya pada tahun 2000.

Mereka ynag finis di tempat ketiga (Daniel Berger, menorehkan skor 67 pada putaran final dan skor total 266) dan keempat (Kevin Kisner, 66/267 dan Scottie Scheffler, 71/267) juga secara mengejutkan finis 12 dan 13 stroke di belakang Johnson.

Tapi meskipun Johnson tak dapat menorehkan rekor-rekor itu, tak satu pun yang menyayangkannya. Terutama mengingat pegolf berusia 36 tahun ini menampilkan kekuatan, presisi, dan akurasi yang tak tertandingi untuk menyuguhkan performa, yang bahkan ia akui sendiri sebagai performa yang memukau.

”Saya sendiri sulit mempercayai pukulan saya,” ujar Johnson, yang pada akhir 72 hole itu menempati peringkat teratas untuk pukulan approach ke pin, rata-rata menyisakan jarak 28 kaki.

Tambahkanlah fakta tersebut pada pukulannya yang luar biasa, bahwa ia memenuhi 18 green in regulation pada hari Minggu itu, setelah sebelumnya mencatatkan 15, 17, dan 15 green pada tiga putaran sebelumnya, Johnson juga hanya membutuhkan total 104 putt. Dia juga menjadi yang terbaik untuk kategori Strokes Gained: Tee-to-Green, juga berbagi tempat ketiga untuk urusan jarak pukul. Dan ia juga mendapat label pemain yang ”tak tersentuh”, yang membuat turnamen ini seakan menjadi ajang yang tak adil.

 

 

Catatannya juga membuktikan performanya. Ia menorehkan, setidaknya, satu eagle tiap putaran dan total 5 eagle ia bukukan. Eagle pada hari Minggu itu tercipta di hole 2 par 5, yang memberinya keunggulan lima stroke atas Harris English.

Dengan kemenangan keduanya tahun ini, Johnson kini mengoleksi 22 kemenangan, menyamai legenda dari generasi sebelumnya, yaitu Raymond Floyd, plus dua nama klasik dari generasi sebelumnya, Johnny Farrell dan Jim Barnes.

Setelah awal yang relatif lambat pada hari Kamis, dengan 4-under, T20, dan berjarak tiga stroke dari pimpinan klasemen, Johnson memainkan 11 hole pertamanya pada hari Jumat dengan 11-under, dan besoknya dengan 15-under. Sepanjang pekan ini ia mencatatkan 23 birdie, 5 eagle, dan tiga bogey yang keberadaannya seolah tak terasa.

Patut diiingat pula bahwa Johnson selalu menang, setidaknya sekali, dalam 13 musimnya bermain pada PGA TOUR. Konsistensi mengagumkan seperti itu jarang terlihat pada era dengan kekuatan peserta yang relatif merata.

Melihat ada begitu banyak aspek menakjubkan yang ia hadirkan, fakta yang nyaris tak diperhatikan lagi ialah kembalinya ia ke peringkat teratas dunia pada Official World Golf Ranking.

Dan sebelum para kritikus mulai mengeluhkan permainan bertenaga di kalangan pegolf profesional tahun 2020 ini, studi terhadap statistik patut mendapat perhatian. Johnson menaklukkan seluruh kompetitor dengan membukukan rata-rata skor 2,328 stroke pada hari Kamis. Dan ia catatannya makin kelewatan. Ia juga 9,529 lebih baik daripada rata-rata pemain lainnya pada hari Jumat, 5,329 lebih baik pada hari Sabtu, dan 6,343 lebih baik pada hari Minggu. Secara keseluruhan, ia sudah 5,882 lebih baik. Cernalah dan kagumilah keajaiban ini.

”Saya tak merasa melakukan hal yang salah pada PGA Championship. Hasil di sana bukanlah sesuatu yang mengecewakan.”

Omong-omong, semua ini terjadi setelah beberapa pekan setelah orang menilai Johnson melakukan hal yang kerap ia lakoni, yaitu melepas peluang menjuarai Major. Pengalamannya dalam ajang golf terbesar memang penuh liku-liku, tapi PGA Championship 2020 di TPC Harding Park itu mesti dilihat sebagai kemenangan Collin Morikawa, alih-alih kekalahan Johnson.

Dan apa yang ia tunjukkan di TPC Boston mesti dianggap sebagai bukti nyata bahwa figurnya layak disertakan dalam kategori pemain tangguh dunia.

Lalu bagaimana ia menjelaskan kemampuannya menyingkirkan semua pesaingnya sampai tak mengusik posisinya sama sekali? Menampilkan performa cemerlang setelah berkali-kali mengalami kekecewaan?

”Cukup mudah melakukannya kalau kami mendapat turnamen besar tiap pekan,” ujarnya, ”Saya tak merasa melakukan hal yang salah pada PGA Championship. Hasil di sana bukanlah sesuatu yang mengecewakan.”

Kalaupun ada satu target akhir baginya hari Minggu itu, target itu adalah mencapai 30-under karena ”Saya belum pernah membukukan 30-under selama empat putaran.” Jadi, ketika kegelapan mulai merangkul dan hanya disaksikan beberapa lusin penonton, Johnson melakukan up-and-down dari depan green di hole 18 par 5 dan membukukan angka ajaib itu.

Hanya saja, skor itu tak cukup ajaib. Skor ajaibnya adalah 31-under.

Seperti biasa, dengan tenang Johnson tertawa. ”Yah, tak apalah. Masih ada lain waktu.”

Tawanya itu jelas tawa yang menyenangkan yang ia tunjukkan dalam jumpa pers virtual. Tapi jangan kaget juga kalau dia serius menanggapinya. Dan sudah pasti masih ada lain waktu baginya untuk mewujudkan hal itu.