LPGA memutuskan membatalkan penyelenggaraan Honda LPGA Thailand dan HSBC Women’s World Championship.

Hanya berselang dua hari setelah R&A menunda penyelenggaraan ajang Major bagi para pegolf amatir wanita Women’s Amateur Asia-Pacific, LPGA memutuskan melakukan langkah pencegahan, terkait mewabahnya virus 2019-nCoV atau virus novel corona.

Lewat pernyataan resminya, LPGA memutuskan untuk membatalkan penyelenggaraan dua turnamen mereka di Asia Tenggara, yaitu Honda LPGA Thailand dan HSBC Women’s World Championship.

Mewabahnya virus 2019-nCoV dalam beberapa pekan terakhir memaksa dua perhelatan besar tersebut harus ditunda untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Honda LPGA Thailand semula dijadwalkan dimainkan pada tanggal 20-23 Februari 2020 di Pattaya, Thailand. Sementara HSBC Women’s World Championship dijadwalkan berlangsung sepekan kemudian, yaitu pada 27 Februari-1 Maret 2020 di Singapura.

“Menunda penyelenggaran turnamen bukanlah hal yang mudah, dan LPGA sangat menghargai pengertian dan seluruh upaya yang dilakukan oleh para sponsor utama kami (Honda dan HSBC), termasuk juga IMG untuk menggelar dua ajang istimewa ini bagi para pemain kami. Kesehatan dan keselamatan para pemain, penggemar, dan semua orang yang bekerja untuk kedua ajang tersebut selalu menjadi prioritas utama kami. Meski kami juga turut kecewa tak dapat menggelar kedua turnamen ini, kami berharap bisa segera kembali ke Asia,” demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.

Keputusan penundaan penyelenggaraan dua turnamen ini menyusul penundaan ajang Blue Bay LPGA, yang semestinya diselenggarakan di Hainan, China.

LPGA sangat menghargai pengertian dan seluruh upaya yang dilakukan oleh para sponsor utama kami (Honda dan HSBC), termasuk juga IMG untuk menggelar dua ajang istimewa ini bagi para pemain kami.

Merebaknya virus corona yang terbaru, yang dinamai 2019-nCoV, telah menyebabkan korban jiwa yang jauh lebih besar daripada ketika SARS merebak pada tahun 2003 silam. BBC melaporkan bahwa sampai hari ini (10/2) sebanyak 40.171 orang telah terinfeksi virus, dengan 187.518 lainnya masih dalam tahap observasi medis. Jumlah korban meninggal di China saat ini telah mencapai angka 908 jiwa.

Sejauh ini virus ini telah menyebar setidaknya ke 27 negara lain dengan dua kasus kematian di luar China, yaitu di Filipina dan Hong Kong. Dan meskipun WHO menyatakan bahwa jumlah kasus baru di China mulai stabil, mereka juga menekankan publik agar tidak terlalu dini menilai bahwa wabah ini telah melewati masa terburuknya.

Hari Minggu (9/2) kemarin, sebanyak 97 pasien akhirnya meninggal akibat virus ini, sekaligus menjadikan hari dengan jumlah korban terbanyak sejauh ini.

Pada tahun 2003 silam, SARS, yang juga berasal dari China, telah menelan 774 korban jiwa di seluruh dunia.

National Health Commision of the People’s Republic of China hari ini menyatakan bahwa sebanyak 632 pasien telah dipulangkan karena telah sembuh, termasuk 356 di Provinsi Hubei, dan 29.307 orang yang melakukan kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi juga dinyatakan telah bebas dari observasi medis.