Lahir di Perancis, tinggal di Dundee, menang di St. Andrews, Victor Perez menjadi rookie pertama yang menjuarai Alfred Dunhill Links Championship.

Tak ada yang memastikan bahwa Anda bakal menjuarai sebuah turnamen golf hanya jika Anda tinggal tak jauh dari lokasi penyelenggaraannya. Tapi ketika hal itu terjadi, jelas menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Lebih istimewa lagi jika Anda melakukan hal tersebut dalam tahun pertama bermain pada level European Tour.

Victor Perez sudah menetap di Skotlandia dan tinggal di Dundee sejak akhir 2018 lalu. Dalam 18 bulan menetap di wilayah links golf seperti itu, kemampuan Perez bermain di lapangan demikian kian terasah. Dan ketika berpartisipasi pada Alfred Dunhill Links Championship, ia sudah tampil layaknya pemain veteran.

Putaran final yang dimainkan di St. Andrews Old Course pun hanya berjarak 15 mil dari tempat tinggalnya. Tak heran ia pun merasa layaknya sebagai pemain lokal.

Sebagai pegolf, ia menjadi salah satu atlet yang memiliki perkembangan karier yang sangat positif sejak amatir. Ketika berkuliah pada University of New Mexico pada periode 2011-2015, ia mewakili Perancis pada ajang Eisenhower Trophy 2014 dan menjadi salah satu pegolf dengan skor individu terendah hanya di belakang Jon Rahm.

Segera setelah beralih pro, ia langsung mendapat kartu Alps Tour dan segera meraih gelar profesional pertamanya pada ajang Alps des Castillas 2016. Pada musim itu ia finis di tempat kelima Order of Merit dan mendapat kartu European Challenge Tour 2017.

Pada musim pertamanya di sirkuit kelas dua itu, ia nyaris langsung meraih kartu European Tour dan finis di peringkat 18, hanya sedikit dari jajaran 15 besar yang otomatis memberi keanggotaan pada European Tour. Namun, pada musim berikutnya, ia berhasil finis di peringkat 3 Order of Merit untuk mendapat kartu European Tour musim ini.

Dengan bekal kemampuan yang cukup, ia langsung mencatatkan hasil positif dalam ajang pertamanya musim ini. Bermain pada Honma Hong Kong open, ia finis T3. Dan sekali lagi, ia mengulangi pengalamannya ketika langsung meraih kemenangan ketika menembus European Tour.

Dengan demikian, perjalanan kariernya dalam empat tahun terakhir dihiasi satu kemenangan tiap tahunnya sejak 2016.

Tapi jelas kemenangannya pada hari Minggu (29/9) kemarin bukanlah kemenangan mudah lantaran sejak awal ia harus bersaing ketat dengan pegolf Inggris Matthew Southgate. Keduanya sama-sama memimpin klasemen dengan keunggulan dua stroke dari pesaing terdekatnya.

Ketika memasuki sembilan hole terakhir, Perez harus ketinggalan satu stroke dari Southgate, meskipun ia sendiri bermain 2-under di sembilan hole pertama. Bogey di hole 11 par 3 sempat membuatnya kian tertinggal, sebelum akhirnya ia mendapat birdie lagi di hole 14. Persis pada saat yang sama Southgate justru mendapat bogey, yang membuat posisi mereka kembali berimbang.

Bogey yang didapat Southgate di hole 17 terbukti menjadi krusial dan sekaligus memberi angin bagi Perez. Dua par di dua hole terakhirnya pun cukup memberi kemenangan pertama bagi Perez. Kemenangan ini menjadi sangat berarti lantaran melambungkan posisinya ke peringkat 17 pada Race to Dubai presented by Rolex dan menembus 70 besar pada Official World Golf Ranking.

“Sungguh sulit menggambarkan perasaan saya saat ini. Saya merasa emosi saya begitu tinggi sepanjang hari ini, dan juga hari ini terasa sangat panjang, sangat dingin, dan berangin. Rasanya saya sanggup melakoni duel ini. Matt bermain luar biasa dan saya sendiri berharap beberapa pemain lain bisa ikut meramaikan persaingan, dan kami beruntung karena pada akhirnya putaran final ini menjadi duel satu lawan satu di sembilan hole terakhir dan saya akhirnya bisa mendapat birdie di hole 14 untuk mengembalikan posisi, dan kemudian berhasil mempertahankan keunggulan itu hingga akhir. Rasanya saya beruntung karena ini menjadi kesempatan saya untuk bisa menang,” jelas Perez.

Meskipun gagal meraih gelar European Tour pertamanya, toh Southgate tidak merasa terlalu kecewa. Sejak memainkan tee pertama, ia bahkan sempat berpikir bahwa salah satu dari antara mereka bakal meraih kemenangan pertama.

“Golf benar-benar lebih besar daripada individu yang memainkannya. Ini permainan kaum gentleman dan saya merasa sangat senang bisa menjabat tangannya di green terakhir. Dia bermain dengan fantastis sepanjang hari dan saya harus puas finis di tempat kedua, yang bukan hal buruk juga,” tutur Southgate.

Musim ini performa Perez memang tidak terlalu istimewa. Namun, finis di tempat kedua membuatnya bisa kembali berada di jajaran Race to Dubai yang bisa menjaminnya tempat untuk tetap bermain pada level European Tour.

Tommy Fleetwood dan Ogden Phipps II Memenangkan Kejuaraan Beregu
Persaingan sengit tak hanya terjadi di level profesional, melainkan juga dalam format Pro-Am. Dan inilah yang menjadi poin keistimewaan Alfred Dunhill Links Championship. Selain mempertandingkan ajang indidvidual bagi para profesional, turnamen ini juga memberi kesempatan bagi pemain amatir, yang berangkat dari berbagai latar belakang profesi. Dari pebisnis, mantan atlet olahraga, musisi, bahkan bintang film Hollywood.

Bintang Ryder Cup Eropa Tommy Fleetwood yang berpasangan dengan pebisnis Ogden Phipps II terbukti menjadi kombinasi maut pada kejuaraan beregu, yang menjadi format Pro-Am pada ajang Alfred Dunhill Links Championship.

Pasangan tersebut sebenarnya membukukan skor yang sama dengan duo ayah anak Gerry dan Rory McIlroy, 39-under. Namun, skor 64 yang dibukukan Fleetwood membuat tim mereka berhasil menjuarai ajang beregu ini lantaran McIlroy hanya membukukan skor 67 pada putaran finalnya.

Bagi Phipps dan Fleetwood, ajang kali ini merupakan kesempatan ketujuh bagi mereka untuk bermain bersama. “Wah, terima kasih buat Dunhill untuk seluruh pengalaman ini. Saya sudah mengenal Tommy sejak ia berusia 19 tahun dan sekarang kami sudah tujuh kali bermain pada ajang ini. Istri saya Ashley dan istri Tommy, Clare, juga sahabat baik dan Tommy juga tinggal bersama kami pada musim panas saat dia bertanding pada US PGA Championship,” ujar Phipps.

Fleetwood sendiri merasa sangat bangga bisa memenangkan ajang beregu bersama sahabatnya itu “Dia merasa gugup ketika memainkan beberapa hole terakhir, tapi dia memang hebat. Rasanya sangat luar biasa ketika bermain tidak hanya untuk diri sendiri, inilah yang disebut kemitraan. Sangat menyenangkan bisa menuntaskan pekan ini dengan kemenangan.

“Rasanya bahkan seperti menjuarai turnamen ini, dengan melihat skor Pro-Am masuk dan saya ikut merasa gugup untuk kami berdua. Sangat menyenangkan bisa main bersama. Skor beregu juga membantu saya karena membuat saya tidak terlalu fokus pada apa yang biasa saya lakukan, dan sebenarnya saya malah berkonsentrasi pada tim. Saya pikir secara mental hal ini membantu saya,” jelas Fleetwood.

Leave a comment