Dalam debutnya pada ajang Major, Kim A-lim memenangkan edisi ke-75 U.S. Women’s Open untuk menutup tahun yang penuh kejutan.

Tak pernah terbayangkan dalam benaknya bahwa ia akan tampil pada sebuah kejuaraan Major. Bagi Kim A-lim, pemikiran tersebut terbilang cukup realistis. Sejak beralih profesional pada akhir tahun 2013, ia hanya dua kali bertanding dalam ajang LPGA. Keduanya pun, LPGA KEB Hana Bank Championship dan BMW Ladies Championship, digelar di Korea. Kariernya juga tidak terbilang istimewa lantaran dalam dua tahun pertamanya, ia harus berjuang keras sampai akhirnya menembus Korean LPGA (KLPGA) pada tahun 2016.

Akan tetapi, perjalanan kariernya ternyata sudah bersentuhan dengan U.S. Women’s Open. Dua tahun setelah meraih keanggotaan pada KLPGA, ia memenangkan OK Savings Bank Pak Se Ri Invitational 2018 sebagai gelar profesional pertamanya. Turnamen ini diinspirasi oleh sosok yang menjuarai U.S. Women’s Open dua puluh tahun sebelumnya. Dan yang tak kalah uniknya, kala itu Kim mengalahkan Lee6 Jeong-eun, yang setahun kemudian menjuarai U.S. Women’s Open!

Kim memastikan tempatnya pada U.S. Women’s Open, yang kemudian menjadi Major pamungkas tahun 2020 ini lantaran COVID-19, setelah berada di posisi 75 besar per 16 Maret 2020 lalu. Inilah penampilan perdananya dalam sebuah ajang Major, sekaligus debutnya di Amerika. Dan seperti halnya kebanyakan pemain debutan, ia tidak mematok target yang muluk-muluk. Mengingat selama ini ia tak pernah bertanding di Amerika, ia hanya ingin menjadikan ajang Major ini sebagai pangggung menimba pengalaman sebanyak mungkin.

”Karena ini merupakan pertama kalinya saya bertanding pada ajang ini, pengalaman ini lebih untuk belajar dan melakukan pengamatan, mengalami suasana turnamen ini secara keseluruhan,” tuturnya sehari sebelum memulai putaran final. Demikian pun, ia mengaku sangat menikmati lapangan di Cypress Creek ini dan menyebut lapangan ini ”sangat cocok untuk jenis permainan saya. Kalau saya bisa berada dalam kondisi terbaik, saya pikir saya bisa melakukan performa yang lebih tinggi lagi.”

 

 

Lalu putaran final yang mestinya dimainkan pada hari Minggu (13/12) itu harus dihentikan karena cuaca memburuk dan membahayakan. Hanya 41 pemain yang memulai putaran keempat. Dan inilah U.S. Women’s Open non-playoff pertama yang harus dituntaskan pada hari Senin. Dengan Kim yang tertinggal lima stroke di belakang Hinako Shibuno, putaran final hari Senin (14/12) pun terbukti menjadi putaran yang sangat mengesankan.

Mungkin saja kondisi cuaca buruk yang memaksa putaran final dihentikan pada hari Minggu ikut berkontribusi. Apalagi sepanjang sejarah kejuaraan ini, kebangkitan dengan ketertinggalan lima stroke hanya terjadi sebanyak tujuh kali—pemain terakhir yang melakukan hal tersebut ialah Annika Sorenstam pada tahun 1995.

Setelah empat par berturut-turut, Kim menorehkan tiga birdie di lima hole berikutnya, yang membawanya ke jajaran atas klasemen. Meskipun kemudian di hole 10 dan 11 mendapat bogey, Kim tampaknya benar-benar berada dalam kondisi terbaik sehingga menampilkan performa yang luar biasa. Sembari rutin mengamati papan klasemen yang dinamis, plus meredupnya bintang Shibuno yang justru harus kehilangan keunggulannya, serta Olson yang, setelah mencatatkan tiga bogey di tiga hole pertamanya serta dua birdie, tak kunjung mendapat birdie tambahan, Kim memastikan dirinya tampil sebagai pemuncak klasemen berkat tiga birdie berturut-turut di tiga hole terakhirnya.

”Sepanjang putaran final ini saya terus mengamati papan klasemen sehingga saya tahu berapa besar ketertinggalan saya,” tutur Kim melalui penerjemah. ”Mungkin itulah alasan mengapa saya berusaha untuk memukul dengan lebih agresif, mencoba menyerang pin.”

”Saya tak pernah membayangkan bakal tampil pada ajang U.S. Women’s Open. Sampai sekarang saya masih sulit menjelaskan bagaimana rasanya saat ini, ….” — Kim A-lim.

Keputusan yang berani, namun terbukti tepat. Ia menyalip Olson dan Shibuno. Rekan senegaranya, Ko Jin-young berusaha mengejar, namun harus puas menuntaskan ajang Major ini dengan torehan 2-under 282. Kim sendiri jelas harus merasakan ketegangan, jika ia merasakannya, lantaran ia harus menunggu grup terakhir menuntaskan permainannya. Dan meskipun sebelah tangannya telah menggenggam trofi Harton S. Temple, ia baru bisa memastikan namanya berhak diukir di trofi prestisius itu setelah Olson hanya bisa membukukan birdie untuk menyudahi U.S. Women’s Open di peringkat kedua bersama Ko.

”Sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ujar Kim. ”Saya tak pernah membayangkan bakal tampil pada ajang U.S. Women’s Open. Sampai sekarang saya masih sulit menjelaskan bagaimana rasanya saat ini, tapi mungkin saya baru bisa merasakannya setelah seremoni dan segalanya tuntas hari ini.”

Sepanjang kejuaraan ini, Kim mencatatkan jumlah birdie terbanyak. Ia menorehkan 16 birdie (5 ia bukukan di Jackrabbit Course) dan mencatatkan skor 67 keempat sepanjang kejuaraan Major wanita tertua ini—pemain lain yang berhasil mencatatkan skor 67 ialah Olson, Shibuno, dan Kim2 Ji-yeong. Semua itu ia torehkan sembari bermain dengan mengenakan masker lantaran tak ingin memberi risiko kepada pemain dan kedi yang ada di sekitarnya.

Kemenangan ini sekaligus menjadikan Kim sebagai pegolf Korea ketiga, setelah Kim Birdie (2005) dan Chun In-gee (2015) yang menjuarai U.S. Women’s Open dalam penampilan perdananya. Ia menggenapi tahun istimewa bagi para pemain debutan dalam ajang Major. Sebelumnya, Lee Mirim menjuarai ANA Inspiration dan Kim Sei-young menjuarai KPMG Women’s LPGA Championship, serta Sophia Popov menjuarai AIG Women’s Open. Popov dan Kim menjadi juara Major non-LPGA pada tahun ini.

 

 

Prestasi lainnya? Dengan peringkat 94 pada Rolex Ranking, Kim menjadi pegolf dengan peringkat dunia terendah yang menjuarai U.S. Women’s Open sejak Rolex Ranking berlaku pada tahun 2006.

Shibuno mendadak menjadi selebriti setelah menjuarai AIG Women’s Open 2019. Akankah hal serupa terjadi pada Kim?

Juara bertahan Lee6 Jeong-eun berusaha untuk mempertahankan gelarnya, namun akhirnya ia harus puas berada di posisi T6 bersama dua mantan juara lainnya, Park In-bee dan Ariya Jutanugarn dengan skor total 286.

Selain berhak menyimpan trofi Harton S. Temple hingga bulan Juni ketika U.S. Women’s Open 2021 digelar, ia juga menerima medali emas Mickey Wright. Kim juga berhak tampil dalam sepuluh edisi ke depan, sekaligus berhak tampil pada empat ajang Major wanita lainnya (ANA Inspiration, KPMG Women’s PGA Championship, AIG Women’s Open, dan The Evian Championship) untuk lima tahun ke depan. Ia juga berhak bermain dalam ajang LPGA selama dua tahun sebagai non-member, plus uang sebesar US$1 juta.