Justin Harding melakoni debut yang solid di Augusta, sementara Kiradech Aphibarnrat menikmati performa yang tak kalah mengagumkan. Inilah hari pertama pada The Masters Tournament.

Juara Indonesia Open Justin Harding menikmati debut yang manis ketika bermain pada ajang The Masters Tournament untuk pertama kalinya. Pegolf asal Afrika Selatan ini menorehkan skor 3-under 69 dan menempatkan dirinya di jajaran atas klasemen sementara di Augusta National Golf Club.

Pegolf berusia 33 tahun ini berhasil mendapat hak bermain pada ajang Major pertama tahun ini setelah berada di peringat 49 pada Official World Golf Ranking. Hasil ini merupakan buah dari kerja keras dan keberhasilannya dalam setahun terakhir ini dalam menjuarai sejumlah turnamen.

Tahun 2018 lalu merupakan tahun tersukses bagi pegolf asal Cape Town, Afrika Selatan ini. Bermain di Sunshine Tour, ia telah mengantongi dua gelar juara pada bulan Mei. Ia memenangkan Investec Royal Swazi Open dan Lombard Insurance Classic. Ia kemudian mendapat undangan untuk bermain pada ajang Indonesia Open, yang digelar pada bulan Juli tahun yang sama dan secara mengejutkan berhasil membawa pulang trofi prestisius ajang tertua di Indonesia tersebut.

Harding kemudian memenangkan ajang Asian Tour keduanya, dua pekan kemudian, dengan menjuarai Royal Cup. Kemenangannya di Thailand ini membawa Harding menembus peringka 100 besar dunia, sekaligus menempatkannya sebagai pegolf pertama yang berhasil memenangkan dua turnamen Asian Tour dalam dua penampilan perdananya tersebut.

“Lapangan di Asia memungkinkan saya bermain secara strategis dan saya memanfaatkannya,” ujar Harding kala itu.

Jelas Augusta National merupakan salah satu lapangan yang menuntut strategi bermain yang jitu. Jelas Harding bakal mengenang debutnya ini dengan sangat baik.

” Saya berhasil melakukan approach yang mendekati pin di hole 16, tapi selain itu saya hanya berusaha mencuri birdie di sana-sini, sebisa mungkin. Beberapa bola saya berhasil mencapai fairway tapi saya masih belajar, ….” – Justin Harding

“Golf adalah olahraga yang sepenuhnya didasarkan pada momentum. Jika Anda memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk dibawa dalam tiap putaran, Anda tentu akan bermain dengan sangat baik persis seperti yang dibutuhkan,” tutur Harding.

Harding kemudian memenangkan gelar European Tour pertamanya saat menjuarai Commercial Bank Qatar Masters pada bulan Maret lalu. Kemenangan di Qatar itu membawanya ke peringkat 52 dunia. Ia berhasil menembus 50 besar tatkala finis T2 pada ajang Magical Kenya Open presented by Absa. Meski gagal lolos cut pada ajang Valero Texas Open sepekan sebelum The Masters, Harding telah mengamankan tempatnya pada ajang Major paling prestisius di dunia ini.

Ia tiba pada Minggu (7/4) malam untuk kemudian melakukan putaran latihan bersama dua pegolf Afrika Selatan lainnya, Charl Schwartzel, Branden Grace, dan keponakan Ernie Els yang juga pemegang gelar juara British Amateur, Jovan Rebula. Ia menikmati putaran latihan itu, menyebut bermain dengan Schwartzel yang merupakan juara The Masters dan Grace yang memainkan The Masters ketujuh dalam kariernya merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Harding pun memainkan putaran pertamanya pada The Masters tahun ini dengan solid. Bermain 2-under dalam tiga hole pertamanya, ia menutup sembilan hole pertama dengan tiga birdie dan sebuah bogey. Ia kemudian menambah dua birdie lagi di hole 15 dan 17, namun sayangnya harus mencatatkan bogey keduanya di hole 18.

“Putaran pertama ini merupakan salah satu momen ketika saya menciptakan peluang bagi diri sendiri. Sulit mengatakan kalau saya memanfaatkan seluruh par lima. Saya berhasil melakukan approach yang mendekati pin di hole 16, tapi selain itu saya hanya berusaha mencuri birdie di sana-sini, sebisa mungkin. Beberapa bola saya berhasil mencapai fairway tapi saya masih belajar, sementara lapangan ini sendiri tidaklah mudah,” jelasnya.

Sementara itu, bintang golf asal Thailand Kiradech Aphibarnrat berhasil menyamai torehan skor Harding ini. Skor 3-under 69 yang ditorehkan Kiradech ini sekaligus merupakan skor terendah baginya selama bermain pada ajang ini.

Skor 3-under 69 yang ditorehkan Kiradech Aphibarnrat kemarin (7/4) merupakan skor terbaiknya selama bermain pada The Masters. Foto: Getty Images.

Kiradech sempat bermain 1-over hingga hole 12. Namun, eagle di hole 13 menciptakan momentum istimewa baginya. Ia juga menorehkan dua birdie berturut-turut di hole 15 dan 16. Ia pun berhasil memperbaiki catatan skornya dengan menorehkan satu stroke lebih baik ketimbang penampilannya pada edisi 2018 lalu.

“Setelah melakukan tee off di hole 13, bola saya ada di rough kanan, tapi saya berhasil memainkan club yang tepat. Green-nya agak lebih lembut, jadi saya bisa mengarahkan bola ke tengah green, menuju slope sehingga membuat bola bergulir ke mendekati pin,” ujar Kiradech yang finis T5 pada tahun 2015 dan T44 pada musim lalu.

Sejauh ini performa Kiradech memang masih belum memuaskan. Dari 10 turnamen yang ia mainkan, ia hanya berhasil dua kali menembus posisi lima besar. Pertama pada ajang WGC-HSBC Champions dan WGC-Mexico Championship.

Usai memainkan kontes Par 3 bersama kakak beradik Jutanugarn, Moriya dan Ariya, Kiradech justru berhasil menorehkan skor terbaiknya selama bermain di sini. Catatan skornya ini menempatkan ia dan Harding, serta beberapa nama lainnya, hanya tiga stroke di belakang Brooks Koepka dan Bryson DeChambeau.

“Saya sangat gembira dengan permainan awal saya ini,” ujar Kiradech. “Skor 3-under tidaklah mudah didapatkan. Anda harus selalu melakukan tiap pukulan dengan solid dan memasukkan tiap putt. Lapangan ini bisa menyiksa Anda!”

Jelas akan menarik melihat apakah, baik, Kiradech maupun Harding bisa mengulangi atau bahkan memainkan performa terbaik mereka. Dengan putaran kedua yang telah mulai dimainkan, Kiradech dan Harding jelas harus membuktikan bahwa permainan mereka pada hari pertama bukan sekadar kebetulan.

Leave a comment