Qualifying School Final Stage Asian Tour yang berlangsung pekan lalu telah meluluskan 41 pegolf yang akan berlaga di kancah Asian Tour pada musim 2019 mendatang. Austen Truslow dari Amerika Serikat pun mencuri perhatian setelah memuncaki maraton golf yang dilakukan selama lima putaran di Lakeview Resort and Golf Club, Hua Hin, Thailand.

Truslow membukukan skor 6-under 65 pada hari terakhir untuk mengamankan kartu Asian Tour. Tak hanya itu, ia juga menjadi bahan pembicaraan lantaran melakukan chipping dengan satu tangan. Setelah menjuarai Section B sepekan sebelumnya untuk meraih tempat pada Q-School Final Stage, ia akhirnya memastikan memenangkan Q-School dengan skor total 24-under 331.

“Selama empat tahun sebelumnya, saya belum pernah menembus Tour mana pun. Target saya saat berusia 18 tahun ialah menembus satu Tour saat berusia 22 tahun dan Qualifying School Asian Tour merupakan kesempatan terakhir melakukannya. Ini pekan yang sungguh bagus. Akhirnya, saya bisa mendapatkan hak main penuh,” ujar Truslow yang membukukan hole-in-one pertama dalam karier profesionalnya pada putaran pertama di hole 16.

Truslow mengaku mulai melakukan chipping dengan satu tangan dalam setahun terakhir.

“Chipping saya pekan ini tidaklah bagus, tapi masih jauh lebih baik ketimbang jika melakukannya dengan dua tangan. Memang saya tak selalu melakukan dengan satu tangan, tapi sekitar 80% kesempatan saya melakukannya,” imbuhnya.

Ia sendiri mengaku tidak menargetkan untuk memenangkan Q-School ini. “Saya hanya ingin memainkan putaran yang bagus karena dengan begitu saya bisa mendapatkan status penuh. Saya finis dengan baik dan cukup beruntung bisa menang,” tandasnya.

“Saya punya keyakinan pada diri sendiri dan saya yakin permainan saya cukup untuk mendapatkan kartu Tour.” – Aadil Bedi

Tempat kedua diambil oleh pegolf tuan rumah, Gunn Charoenkul. Ia menikmati pekan yang mungkin akan sulit ia lupakan. Pada putaran final itu, ia menorehkan skor terendah dengan skor 61 untuk finis di tempat kedua dan meraih kartu Asian Tour.

Q-School pekan lalu tak hanya menjadi kisah Truslow dan Charoenkul, tapi juga Aadil Bedi. Pegolf asal India ini merupakan pegolf termuda yang menembus Final Stage kali ini. Pegolf berusia 17 tahun ini menorehkan skor 63 dan finis di posisi T9.

Bedi yang sempat memimpin pada akhir putaran ketiga ajang Asian Games 2018 lalu, menunjukkan kematangan permainan yang melampaui usianya. Itu pun ia tunjukkan dengan memendam kesedihan lantaran sahabatnya mengalami kecelakaan di India, persis ketika ia memainkan putaran pertamanya.

“Secara mental saya merasa berat, tapi saya masih bisa main bagus dan senang bisa menuntaskan denga baik. Saya punya keyakinan pada diri sendiri dan saya yakin permainan saya cukup untuk mendapatkan kartu Tour,” ujar Bedi yang mencatatkan skor total 16-under 339. “Memang sulit untuk selalu mempertahankan fokus. Ketika saya menunggu untuk melakukan pukulan di antara tiap hole, atau di antara malam peralihan tiap putaran, saya selalu mengingat sahabat saya. Tapi ini pekan yang positif. Saya sudah brmain dengan sangat solid dalam seluruh bagian permainan saya.”

Bedi sendiri sempat mendapat undangan untuk bermain pada ajang tutup musim Asia Development Tour. Kala itu ia finis T12.

“Pada akhirnya, saya akan beralih profesional juga dan Asian Tour akan menjadi platform yang ideal buat saya.” – Jin Cheng

Hasil terbaiknya dalam ajang profesional a raih ketika finis di tempat ketiga pada ajang Bengaluru Open, ajang Professional Golf Tour of India.

Bedi bukanlah satu-satunya alumni Asian Games 2018 yang sukses meraih kartu Asian Tour pada pekan lalu. Pegolf muda potensial Thailand lainnya Sadom Kaewkanjana juga berhasil mendapat hak main untuk musim depan. Bermain dengan masih berstatus pegolf amatir, Sadom mencatatkan skor total 14-under 340 dan finis di posisi T13.

“Saya sangat gembira bisa mendapatkan kartu Asian Tour. Saya berencana beralih profesional setelah ajang ini dan pada tahun 2019, saya berharap bisa mempertahankan hak bermain untuk musim selanjutnya,” ujar Sadom yang meraih medali perak pada ajang SEA Games 2017.

Adapun Jin Cheng menjadi satu pegolf amatir lain yang melakukan hal serupa. Pegolf muda asal China ini memang telah menunjukkan kapasitasnya sebagai pegolf. Tahun 2014 lalu ia menjadi pegolf amatir pertama yang menjuarai sebuah ajang PGA TOUR Series China. Ia juga menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2015, yang memberinya debut bermain pada The Masters Tournament 2016.

Meski demikian, tak seperti Sadom, Jin berniat untuk mempertahankan status amatirnya.

“Saya masih akan mempertahankan status amatir saya, setidaknya sampai akhir Juni 2019. Saya tak merencanakan banyak hal karena saya masih harus sekolah sampai bulan Juni dan berniat untuk mengikuti Kejuaraan Nasional. Kita lihat saja bagaimana nantinya setelah itu,” ujar Jin yang kini berkuliah pada University of Southern California. “Pada akhirnya, saya akan beralih profesional juga dan Asian Tour akan menjadi platform yang ideal buat saya,” ujarnya.

Leave a comment