Calvin Koh mengajak kita untuk melihat bagaimana perjalanan karier Pan Cheng-Tsung atau C.T. Pan sejak pertama kali mengenal golf hingga mencatatkan prestasi terbaiknya pada Masters Tournament bulan November 2020 lalu.

Oleh Calvin Koh

Berkendara melintasi Magnolia Lane telah menjadi dambaan baginya sejak pertama kali memegang club. Mungkin mengingat inilah jalur berkendara paling terkenal di Amerika, Pan Cheng-Tsung benar-benar membutuhkan waktu cukup untuk mewujudkannya. Namun, ketika ia mendapatkan paspornya ke sana, C.T. Pan, begitu namanya kini dikenal, meninggalkan kesan yang sangat melekat di sana.

”Sungguh luar biasa! Saya sudah membayangkan hal ini sejak berusia 5 tahun,” tutur Pan menyinggung debutnya pada Masters Tournament bulan November 2020 lalu. ”Pengalaman itu jelas layak dinantikan, dan penantian itu sangat, sangat lama.” Bukan saja karena ini merupakan debut yang sudah lama dinantikan oleh Pan, tapi juga bagi negerinya, mengingat dialah pegolf China Taipei pertama yang bisa bermain pada Masters Tournament sejak 2009.

Segala hal yang baik memang layak dinantikan dan diperjuangkan. Dan hasilnya benar-benar luar biasa bagi pegolf berusia 29 tahun, yang mengakhiri pekan berkesan itu di peringkat T7. Inilah prestasi terbaik Pan dalam 10 penampilannya pada ajang Major, dan juga sepuluh besar pertama pada panggung PGA TOUR selama 18 bulan sejak ia menjuarai RBC Heritage 2018.

Perjalanan Pan menuju eselon tertinggi olahraga ini bisa dilihat dari National Golf Country Club. Di sinilah sang ibu, Kang Yueh-Mei bekerja sebagai seorang kedi. Sang ibu pulalah yang memperkenalkan golf kepada Pan. Dan lapangan yang berada di sebelah utara Taiwan, di Miaoli, ini menjadi lapangan pertama di mana Pan menemukan bakat dan kecitaannya pada golf.

 

General Manager National Golf Country Club Roy Wu (kanan) masih ingat bagaimana masa-masa awal pertumbuhan C.T. Pan di lapangannya. Foto: National Golf Country Club.

 

Ketika Kang masih kecil, sang ibu kerap membawa putranya ke lapangan dan menempatkannya di sekitar green latihan. Tak butuh waktu lama sampai Pan akhirnya menyukai olahraga ini.

Pada periode awal pertumbuhannya, Pan biasa bangun sebelum pukul 04:00 pagi dan bermain sembilan hole sebelum clubhouse dibuka. Sembilan hole sisanya ia mainkan setelah clubhouse tutup.

Roy Wu, General Manager NGCC masih mengingat jelas tahun-tahun pertumbuhan Pan. ”Saya ingat Pan sangat bersemangat dan rajin berlatih pada tahun-tahun ketika ia di National Golf Country Club. Saya tahu ia memiliki bakat dan determinasi untuk menjadi pegolf terbaik di dunia dan semua itu sudah terbukti berkat hasil yang ia raih belakangan ini pada PGA TOUR,” ujar Wu.

Mendiang ayahnya, Pan Jung-ho, juga tidak meragukan bahwa putranya bakal menjadi pegolf kelas dunia suatu hari kelak. Setelah menyaksikan Tiger Woods menjadi pegolf termuda yang pernah menjuarai The Masters di TV, Jung-ho menoleh kepada Pan dan memberi tahu putra terkecilnya bahwa ia ingin melihatnya ”melakukan hal serupa untukku suatu hari nanti.”

Sebagai sosok yang luar biasa disiplin, sang ayah mencurahkan cinta kasih yang tidak mudah kepadanya. ”Ayah saya sangat ketat. Dia bersikap keras kepada saya. Dia selalu menemukan latihan spesial buat saya. Dia akan menyuruh saya berlari satu kilometer menaiki bukit untuk membuat saya tangguh, secara fisik dan secara mental,” tutur Pan.

Pan menerima pelatihan sang ayah karena ia yakin semua itu memberinya dorongan, disiplin diri, dan kerendahan hati yang dibutuhkan untuk suatu saat nanti menjadi pemain yang tangguh.

”Saya tahu kemenangan pertama akan terasa istimewa, tapi bisa melakukannya ketika saya tak merasa dalam kondisi terbaik menjadi bukti kekuatan kemauan, dan sesuatu yang akan terus saya ingat.” — C.T. Pan.

Seperti halnya latihan trekking menaiki bukit yang diperkenalkan sang ayah, perjalanan Pan menuju panggung besar pun dimulai. Usianya baru 14 tahun ketika mewakili China Taipei pada ajang Eisenhower Trophy World Amateur Team Championship. Tahun berikutnya, ia pindah ke Amerika Serikat untuk mengikuti IMG Academy yang prestisius setelah mendapatkan beasiswa penuh, memulai upayanya menempuh karier golf profesional.

Secara berturut-turut ia menjuarai turnamen-turnamen American Junior Golf Association (AJGA) sebelum kemudian mendapat tempat pada University of Washington. Di sinilah ia dua kali masuk All American. Selama delapan pekan ia menempati peringkat teratas pada World Amateur Golf Ranking pada tahun 2013. Ia juga membantu negaranya menjuarai medali emas individu dan beregu pada Asian Games 2014 untuk mengukuhkan statusnya sebagai salah satu bintang baru Asia.

Debutnya pada ajang Major terjadi ketika ia baru berusia 19 tahun dan berstatus amatir, pada U.S. Open 2011. Empat tahun kemudian ia juga kembali pada ajang Major yang sama, kali ini dalam debut profesionalnya. Pada tahun yang sama, Pan mengemas dua gelar PGA Tour Canada dan finis runner-up dalam dua ajang PGA TOUR. Sekali pada Farmers Insurance Open 2017 dan sekali pula pada Wyndham Championship 2018.

Pengakuan terhadap statusnya sebagai pemain kelas dunia terjadi pada ajang RBC Heritage 2019. Lewat ajang inilah ia meraih gelar PGA TOUR pertamanya dengan keunggulan satu stroke. Nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah telah memberinya rasa percaya diri.

 

Setiap tahun C.T. Pan selalu kembali ke National Golf Country Club dan menggelar klinik golf. Foto: National Golf Country Club.

 

”Saya tidak merasa dalam kondisi yang bagus di beberapa hole terakhir, rasanya sangat Lelah. Namun, saya mengingat bagaimana saya finis di tempat kedua pada ajang Wyndham, dan kembali fokus. Saya takkan mengecewakan diri atau keluarga saya lagi, ” ujarnya. Ketika langkahnya mulai berat, pada akhirnya ia kembali ke perkataan yang selalu ia ucapkan dalam benaknya: fokus.

”Saya mendorong diri saya lebih keras daripada yang sudah-sudah. Saya tahu kemenangan pertama akan terasa istimewa, tapi bisa melakukannya ketika saya tak merasa dalam kondisi terbaik menjadi bukti kekuatan kemauan, dan sesuatu yang akan terus saya ingat.”

Dengan kemenangannya itu, Pan menjadi pegolf China Taipei kedua yang meraih kemenangan pada PGA TOUR, setelah T.C. Chen menjuarai Los Angeles Open 1987.

Saat ini, Pan menjadi duta besar bagi golf di negaranya dan telah memberi kontribusi besar terhadap golf. Kini setiap tahun Pan selalu pulang ke NGCC, di mana ia mengadakan klinik tahunan dan menjadi tuan rumah bagi para pegolf junior di lapangan tempat ia memulai segala sesuatunya.

Tentang Calvin Koh
Selama bertahun-tahun Calvin berkarier secara profesional di bidang komunikasi dengan lebih dari satu dekade pengalaman media di industri olahraga. Sepanjang kariernya itu, ia juga telah bertugas pada berbagai turnamen golf profesional dan kejuaraan Major.