Danny Masrin meraih gelar Indonesian Golf Tour (IGT) keempatnya setelah menjalani persaingan seru pada putaran final (24/3) Tugu Pratama Indonesia Golf Invitational, Seri III IGT, dengan pegolf amatir Naraajie Emerald Ramadhan Putra. Kedua pemain yang berada di puncak klasemen pada akhir putaran kedua ini bermain dalam satu grup dan bersaing ketat hingga hole terakhir.

Setelah absen dalam IGT Seri II karena cedera, Danny akhirnya kembali menunjukkan penampilan terbaiknya, seperti yang ditunjukkannya pada musim lalu. Pegolf berusia 24 tahun ini berhasil mewujudkan tekadnya untuk meraih gelar juara IGT yang pertama pada musim ini. Danny menutup permainan pada putaran akhir ini dengan skor 4-under 68 dan mengumpulkan skor total 13-under 203.

Memulai putaran terakhir dengan selisih satu pukulan dari Naraajie, perolehan skor Danny sempat diimbangi Naraajie di hole 4. Namun, Danny bisa menambah tiga birdie dan menyelesaikan sembilan hole pertama dengan 13-under. Sebaliknya, Naraajie tetap bertahan di angka 10-under. Skor ini bertahan hingga hole 17.

Di hole 18, Naraajie berpeluang untuk mendapatkan eagle dan menipiskan selisih skor setelah pukulan keduanya bisa menempatkan bola di green dengan menyisakan jarak sekitar 50 cm dari hole. Sayangnya, ia gagal memasukkan putt eagle-nya dan harus puas dengan skor birdie. Pegolf amatir berusia 16 tahun inipun  harus mengakui kekalahan dengan selisih dua pukulan dari Danny.

“Saya akui ini permainan terketat saya sepanjang IGT saat berada di grup terakhir. Naraajie itu pemain yang sangat bagus. Di beberapa green bola dia lip out. Seandainya itu tidak terjadi, saya yakin ia bakal jadi juara. It’s not his best day,” ujar Danny yang membawa pulang hadiah Rp51 juta dari total hadiah Rp300 juta yang disediakan.

Danny mengakui hingga di hole terakhir itu ia masih belum yakin bakal memenangkan turnamen ini, terutama melihat peluang eagle yang dimiliki Naraajie. Ia pun berpikir pertandingan akan berlanjut hingga babak play-off.

Meski akhirnya hanya menempati posisi kedua, Naraajie masih menyabet gelar the Lowest Amateur. Ini merupakan gelar keduanya secara berturut-turut setelah meraih predikat serupa pada Permata Indonesian Golf Tour, Seri II IGT Februari lalu.

“Saya cukup puas karena bisa melakukan perlawanan ketat dengan pemain profesional terbaik Indonesia. Sayang, putt saya kurang bagus hari ini sehingga tidak maksimal,” kata Naraajie.

Tugu Pratama Indonesia, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang usaha asuransi cukup puas dengan penyelenggaraan Seri III Indonesian Golf Tour (IGT), meski masa persiapannya cukup singkat. Ini merupakan keterlibatan pertama Tugu Pratama Indonesia dalam kompetisi professional Indonesia setelah pada 1990-an Tugu Pratama sangat rutin berpartisipasi dalam turnamen golf professional.

“Kami terlibat dalam turnamen golf professional seperti IGT ini didasari karena keinginan untuk ikut memajukan golf professional Indonesia. Minimnya keterlibatan sponsor membuat kami tergugah untuk ikut berpartisipasi,” kata Sigit Sucipto, Marketing Director PT Tugu Pratama Indonesia.

“Untuk IGT ini, kami ingin turnamen yang lebih besar dari yang biasanya. Itu sebabnya hadiah yang disediakan berjumlah Rp300 juta.”