Gelar Tenerife Open melengkapi status Dean Burmester sebagai pegolf internasional.

Dari tujuh gelar profesional yang ia raih, Dean Burmester kerap memenangkannya di Afrika, benua yang selama ini menjadi tempat asalnya. Satu-satunya kemenangan di level European Tour ia raih ketika menjuarai Tshwane Open, empat tahun silam. Namun, sejak saat itu, pegolf yang meraih status European Tour melalui Qualifying School 2016 ini harus bersabar untuk meraih kemenangan pertamanya di Benua Eropa.

Kesempatan itu tiba di Golf Costa Adeje. Pegolf kelahiran Zimbabwe 31 tahun silam ini berhasil mengakhiri putaran tiga ajang Tenerife Open dengan menempel duo pimpinan klasemen, Nicolai von Dellingshausen dan Kalle Samooja, dengan jarak hanya satu stroke.

Ia sadar bahwa persaingan pada putaran final akan ketat. Ada 18 pegolf lain yang berjarak hanya lima stroke dari kedua pemain teratas tersebut. Toh permainannya pada putaran final tersebut nyaris tidak terlihat berada dalam tekanan.

Bermain dalam satu grup dengan Samooja dan von Dellingshausen, Burmester justru berhasil mengambil alih puncak klasemen menyusul lima birdie yang ia bukukan di sembilan hole pertama. Dan justru ketika para pesaing lainnya mulai mendapatkan bogey, ia justru berhasil mempertahankan kartu skornya dari skor di atas par tersebut.

”Putt par di hole 9 itu membuat saya yakin (akan putting saya) karena saya melakukan putt itu dan bola bergulir melewati jalur yang saya bidik dan saya sulit mempercayai kalau saya bisa melakukan putting yang sempurna dan berhasil masuk,” paparnya.

”Kemudian ada par krusial di hole 10, birdie yang bagus di hole 11 dan kemudian di hole 12—semua itu pukulan yang telah saya latih, memukul ke atas pepohonan dan di sekitar green, ketika saya masih muda.”

 

 

Setelah birdie di hole 11 itu, ia masih menambah tiga birdie lagi, termasuk di hole terakhir, untuk memastikan kemenangan pertamanya di Benua Eropa. Von Dellingshausen, yang berusaha mengejar di sembilan hole terakhir pun praktis mengibarkan bendera putihnya, lantaran tak kunjung mendapat birdie tambahan setelah hole 11. Eagle yang ia bukukan di hole terakhir hanya membantunya untuk menempati posisi kedua sendirian, mengingat Burmester mencatatkan skor total 25-under 259, lima stroke lebih baik daripada pegolf Jerman tersebut.

”Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkannya, selama empat tahun saya berjuang dan melakukan kerja keras. Kedi saya Jason dan saya telah bersama dua tahun ini, dia belum pernah menang, jadi ini merupakan kemenangan pertamanya dan ia layak menerimanya karena sudah bersama saya melalui berbagai hal,” ujar Burmester lagi.

Kemenangan ini membuatnya berhak menerima cek senilai €230.500 atau sekitar Rp4 milyar dan 460 poin, yang cukup membawanya ke peringkat 18 pada Race to Dubai Rankings in Partnership with Rolex.

Satu hal lain yang membuatnya emosional ialah bahwa meskipun ia sangat ingin pulang dan menemui keluarganya, ia harus menundanya, lantaran pandemi masih menyulitkannya untuk bisa pulang.

”Dengan COVID-19 dan semuanya, saya tidak tahu kapan bisa pulang. Kemenangan ini sangat emosional, tapi saya merasa bersemangat untuk bisa pulang,” tandasnya.

Pada pekan di Tenerife itu, pegolf Korea Chang Yikeun mencatatkan hasil terbaik bagi Asia. Skor 67 membawanya finis di posisi T6 dengan skor total 17-under 267. Prestasinya di Golf Costa Adeje ini sekaligus memperbaiki catatan penampilannya pada kancah European Tour. Hasil terbaik sebelumnya ialah T7, yang ia raih pada ajang South African Open hosted by the City of Johannesburg pada tahun 2019.