Cyril Bouniol melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan pegolf Eropa lainnya di China.

Jika ada satu Tour utama yang belum pernah dimenangkan oleh pegolf Eropa, itulah PGA TOUR Series-China. Sejak pertama kali bergulir pada 2014, tak satu pun pegolf Eropa berhasil menorehkan prestasi berupa kemenangan.

Musim 2018 lalu, pegolf Inggris Callum Tarren mungkin sukses menjuarai Order of Merit untuk menuju Web.com Tour. Namun, ia mencapainya dengan enam kali finis di peringkat kedua. Rekan senegaranya, Stephen Lewton, juga hanya nyaris menang ketika akhirnya takluk pada babak play-off di Nantong.

Rasa penasaran itu akhirnya tertuntaskan pada turnamen ketujuh musim 2019 ini.

Adalah Cyril Bouniol yang menembus batasan yang belum pernah dilakukan oleh pegolf Eropa mana pun di China. Pegolf asal Perancis, yang sempat bermain pada European Tour ini memastikan peluangnya setelah dua kali membukukan skor 6-under 66. Usai mengawali Suzhou Open dengan skor 69, skor 66 pada putaran kedua dan ketiga melambungkan dirinya ke jajaran teratas klasemen di Jinji Lake International Golf Club pekan lalu.

Permainannya pada hari ketiga itu juga terbilang sangat baik, nyaris sempurna bahkan, mengingat ia mengemas enam birdie dan bermain tanpa bogey. Ia menyebut performanya kala itu merupakan salah satu permainannya yang paling solid dengan keberhasilannya menghindari melakukan kesalahan.

Cyril Bouniol disambut oleh para pegolf lainnya dengan siraman air, usai menjuarai Suzhou Open, turnamen ketujuh PGA TOUR Series-China musim 2019 ini. Foto: PGA TOUR Series-China/Liu Zhuang.

“Saya hanya bermain cerdas selama 18 hole ini,” ujarnya kala itu.

Pegolf yang lulus di bidang administrasi bisnis dari Abilene Christian University ini melanjutkan permainan gemilangnya hingga pada putaran final kemarin (16/6). Ia sadar bahwa keunggulan satu stroke bukanlah posisi yang nyaman untuk memastikan mencatatkan sejarah penting bagi Eropa. Tapi ia juga sadar bahwa permainan yang terlalu agresif akan membuatnya melepas peluang terbaiknya untuk meraih kemenangan.

Bermain di bawah tekanan jelas tidak mudah bagi siapa pun juga, termasuk Bouniol. Ia harus bersabar sampai mendapatkan birdie pertama di hole 6, yang membantunya untuk mendapat angin segar. Ia pun kembali menambah koleksi birdie-nya, sekaligus melepaskan diri dari kejaran pegolf Amerika Trevor Sluman, yang mulai mengancam posisinya.

Matt Gilchrest, pesaing terdekat Bouniol ketika memulai putaran final dengan selisih hanya satu stroke, sempat kembali bangkit dengan birdie di hole 8 dan 9 untuk kembali memberi tekanan bagi Bouniol. Namun, double bogey yang ia dapatkan di hole 11 menjadi titik balik yang justru memadamkan peluangnya.

Sluman justru tampil sebagai pesaing terdekat dengan menorehkan lima birdie di sembilan hole terakhirnya untuk menuntaskan turnamen dengan skor total 17-under 271, sekaligus memberi target bagi Bouniol, yang bermain di grup terakhir.

Pimpinan Order of Merit PGA TOUR Series-China Trevor Sluman berusaha memberi tekanan kepada Cyril Bouniol, namun harus puas finis di peringkat kedua dengan 17-under 271, sekaligus mengukuhkan statusnya di puncak Order of Merit musim ini. Foto: PGA TOUR Series-China/Liu Zhuang.

Bouniol memang mengukuhkan posisinya dengan tiga birdie berturut-turut di hole 11, 12, dan 13. Dengan total 20-under yang ia miliki, Bouniol tampaknya sudah pasti akan meraih kemenangan.

Nasihat paling berharga dalam olahraga ini mendorong siapa pun yang berada dalam posisi yang paling menguntungkan sekali pun untuk mempertahankan fokus dan ekstra hati-hati. Dan justru ketika segalanya seolah berjalan dengan mulus, di situlah momen paling dramatis dalam sebuah turnamen golf terjadi. Bogey di hole 14 disusul dengan tiga putt untuk bogey keduanya membuat Bouniol justru terancam. Dari memiliki keunggulan tiga stroke, kini ia hanya punya tabungan satu stroke.

“Tiga putt di hole 17 itu benar-benar buruk, terutama karena saya tahu bahwa hole 18 sejauh ini merupakan hole tersulit di lapangan golf ini,” tutur Bouniol, yang sempat mempelajari ilmu fisika dan astrofisika di Perancis, sebelum kuliah di Amerika.

Bak film yang menghadirkan ketegangan ekstra, Bouniol justru menempatkan bolanya ke area fringe, yang memaksanya untuk melakukan up-and-down untuk menghindari play-off. Kemudian chipping-nya justru menempatkan bolanya di posisi yang tak kalah sulitnya, mengingat jarak 20 kaki ke lubang bukanlah jarak yang mudah. Namun, Bouniol menunjukkan ketenangan yang luar biasa untuk membaca jalur putt, lalu mengeksekusinya, sebelum menutup dengan selebrasi yang penuh kelegaan.

“Saya sadar kalau saya mesti melakukan up-and-down, tapi chipping saya di hole 18 itu juga sangatlah jelek. Tapi saya hanya bisa menertawakan kesalahan itu karena saya tahu saya masih punya peluang untuk memasukkan putt. Sudah pasti ini bukan cara yang mudah untuk menang, tapi saya sangat senang putt itu akhirnya bisa masuk,” sambung Bouniol.

Pegolf Jepang Kenta Endo menorehkan rekor skor terendah pada Suzhou Open dengan bermain 8-under 63 pada hari pertama. Endo kemudian finis di peringkat 3, berbagi posisi dengan pegolf Irlandia Niall Turner dengan skor total 273. Foto: PGA TOUR Series-China/Liu Zhuang.SUZHOU, China: Cyril Bouniol asal Perancis menerobos batasan yang selama ini belum pernah dilakukan para pegolf Eropa lewat kemenangan profesional pertamanya pada Suzhou Open. Foto: PGA TOUR Series-China/Liu Zhuang.

Kemenangan ini memberinya gelar profesional pertama sejak beralih status pada tahun 2012. Perjalanan kariernya juga sempat mengalami pasang surut. Ia meraih kartu European Tour untuk musim 2015 setelah tujuh kali finis di 10 besar pada European Challenge Tour pada musim 2014. Namun, ia kemudian kehilangan kartu Tour-nya dan harus kembali ke strata kedua Eropa itu.

“Saya sangat menginginkan kemenangan ini selama lebih dari dua tahun terakhir, dan masa penantian ini sangatlah berat. Saya sudah berlatih sangat keras, dan ketika mendapat kesempatan, Anda harus memanfaatkannya,” ujar Bouniol, yang menjadi satu-satunya pemain yang berhasil main di bawah skor 70 pada pekan itu.

“Saya lega akhirnya bisa melepas beban untuk meraih kemenangan itu, dan waktunya juga sangatlah sempurna, pada pertengahan musim. Saya berharap bisa finis dengan meyakinkan pada musim ini, dan saya ingin menjuarai Order of Merit!”

Kemenangan ini turut melambungkan peringkatnya pada klasemen Order of Merit. Ia kini berada di peringkat 7 dengan koleksi RMB371.368, sementara Sluman masih memimpin dengan total RMB572.709. Dari sepuluh peringkat teratas, hanya Lewton, Bouniol, Taihei Sato, dan Richard Jung saja yang bukan merupakan pegolf Amerika.

Pekan ini PGA TOUR Series-China akan kembali bergulir dengan memainkan turnamen kedelapan, Huangshan Championship di Hidden Tiger Golf Club. Dengan tujuh turnamen tersisa pada tahun ini, perlombaan meraih status juara Order of Merit jelas masih cukup panjang, dan peluang hadirnya kejutan-kejutan lain jelas masih terbuka.

Leave a comment