Bintang baru asal Jepang Takumi Kanaya siap menyambut tantangan di Hawaii dengan memegang satu pedoman.

Sejak beralih profesional, bintang baru asal Jepang Takumi Kanaya telah menerima begitu banyak masukan. Namun, ada satu panduan yang selalu menjadi mantra ketika ia menjalani level baru ini.

Pegolf berusia 22 tahun ini akan kembali bertanding dalam ajang PGA TOUR pekan ini, yaitu pada Sony Open in Hawaii. Sambil berusaha menembus Tour paling prestisius di dunia ini, Kanaya akan berpegang erat pada mantra berbahasa Jepang, yaitu Gamushara. Inilah panduan yang diberikan kepadanya oleh gurunya ketika ia masih SMP.

”Gamushara merupakan kata yang guru saya ajarkan ketika lulus SMP dan istilah ini sangat menyentuh hati sehingga saya membawanya terus sejak saat itu. Sangat sulit untuk menerjemahkannya secara literer, namun dalam benak saya kata ini bisa berarti ’kejarlah’. Inilah kata yang selalu mengingatkan diri saya ketika keadaan tidak berjalan dengan baik, bahwa sebagai anak muda, saya membuat komitmen yang tegas untuk selalu mencoba,” jelas Kanaya.

Jelas ia berniat untuk berpegang pada motto tersebut ketika mulai bertanding di Waialae Country Club di Honolulu. Dengan permainannya yang kian berkembang, pertumbuhan Kanaya di level profesional jelas terus diikuti oleh para penggemar golf dan media dari Jepang. Banyak juga yang menyamakan kemunculannya di panggung profesional ini seperti seniornya yang telah mengoleksi lima gelar PGA TOUR, Hideki Matsuyama.

Sony Open di Hawaii ini akan menjadi turnamen PGA TOUR keenam yang ia ikuti. Meskipun bakal bersaing dengan para pegolf tangguh, termasuk juara bertahan asal Australia, Cameron Smith, Kanaya berniat untuk memaksimalkan kesempatan kali ini.

”Ke mana pun saya pergi dan terlepas dari siapa pun pemainnya, satu hal yang paling penting buat saya melebihi apa pun ialah kedalaman permainan dan bagaimana para pemain memiliki kekuatan individunya masing-masing,” ujar Kanaya, yang bermain dengan memanfaatkan undangan sponsor. ”Hanya berada di antara mereka saja sudah memotivasi saya untuk berkembang lebih jauh sehingga bisa bersaing di level mereka pada masa mendatang. Saya juga telah menyadari betapa sulitnya panggung PGA TOUR ini dan apa yang mesti saya lakukan untuk bisa mencapai ke sana.”

”Saya merasa tersanjung bisa dibandingkan dengan senior saya, Hideki Matsuyama, tapi saya pikir saya belum mencapai level tersebut.”

Sebagai pemain amatir, Kanaya telah mencapai status No.1 Dunia dan meraih penghargaan prestisius Mark H. McCormack Medal 2020. Prestasi lain yang ia torehkan termasuk menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2018, kejuaraan yang dua kali dimenangkan oleh Matsuyama. Tahun 2019 bakatnya terus bersinar ketika mengalahkan para pemain profesional dan memenangkan Mitsui Sumitomo Visa Taiheyo Masters pada Japan Golf Tour. Lalu setelah beralih profesional pada bulan Oktober 2020 lalu, ia kembali meraih kemenangan lewat ajang Dunlop Phoenix Tournament, ajang keempat yang ia ikuti setelah beralih status.

Rangkaian prestasinya itu pun membuat banyak kalangan mulai membandingkannya dengan Matsuyama. Namun, Kanaya berharap ia bisa mengikuti konsistensi yang sangat tinggi, yang telah ditunjukkan Matsuyama dalam kariernya, termasuk keberhasilannya tampil tujuh kali berturut-turut pada ajang pamungkas FedExCup Playoff, yaitu TOUR Championship.

”Saya merasa tersanjung bisa dibandingkan dengan senior saya, Hideki Matsuyama, tapi saya pikir saya belum mencapai level tersebut. Saya pikir satu-satunya hal yang sama dari kami ialah kami kuliah di universitas yang sama (Tohoku Fukushi University),” jelas Kanaya.

”Saya pikir stabilitas Hideki dan kemampuannya mencatatkan skor dan tidak hilang fokus bahkan ketika bermain buruk adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Saya tak bisa melakukannya dan ingin belajar bagaimana menjadi pemain yang lebih stabil dengan mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin dengan melakukan percobaan sendiri.”

Meski demikian, ia memiliki target jangka pendek yang tak segan ia bagikan.

”Saya ingin bisa menembus kualifikasi untuk Olimpiade Tokyo (bulan Juli). Mendapatkan status pada European Tour dan PGA TOUR juga menjadi sesuatu yang ingin saya segera raih. Untuk jangka panjang, saya ingin menjadi pemain kelas dunia yang bersaing di level tertinggi, menjuarai Major, dan menjadi No.1 Dunia,” tegasnya.

Perjalanannya untuk memenuhi semua target itu bisa segera dimulai lewat Sony Open in Hawaii, yang dimulai hari ini (14/1).