Putaran ketiga Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, PT Lautan Luas Tbk, and Bank Mandiri menjadi putaran terberat bagi Danny Masrin. Sebagai satu-satunya wakil Indonesia pada turnamen pamungkas ini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa kondisi di lapangan berbeda jauh dengan dua putaran sebelumnya.

Pertama, hujan yang tidak turun di Royale Jakarta Golf Club pada hari kedua ikut menciptakan perubahan. Green yang sebelumnya sudah licin, kini menjadi lebih licin lagi sehingga permainan putter pun mesti disesuaikan.

“Mungkin di sembilan hole terakhir saya, green speed-nya lebih cepat 0,5-1 feet,” ujarnya.

Tak hanya di permukaan putting, Danny juga merasakan bagaimana angin ikut mengganggu permainannya dan menyulitkan pemain dalam mengontrol flight bola mereka. Meskipun kondisi angin terburuk terjadi pada sore hari, hari kedua kemarin (14/12), Danny tidak sempat mengalaminya lantaran menuntaskan permainan lebih awal.

Akan tetapi, upayanya untuk menemukan momentum pada awal putaran ketiga ternyata juga tidaklah mudah. Malahan ia harus memulai hari ketiga ini dengan sebuah bogey.

“Sebenarnya, kalau angin ikut membantu di hole 10 itu rencana saya ialah memainkan rescue. Tapi saya juga tidak mengira kalau bola bisa sampai bunker sebelah kiri. Karena bola ada di rough dan ada embusan angin dari belakang juga, saya kesulitan untuk menilai apakah bolanya akan melambung atau tidak. Saya sudah mencoba mengurangi jarak pukul hingga 15 yard, tapi ternyata bola masih melewati green,” tutur Danny.

 

“Mungkin di sembilan hole terakhir saya, green speed-nya lebih cepat 0,5-1 feet.” – Danny Masrin

 

Bogey itu turut menambah bebannya untuk menciptakan momentum. Namun, ia masih berhasil melakukan up-and-down di sejumlah hole dan berhasil mengamankan par.

Demikian pun, ia masih harus menunggu hingga hole 17, yaitu hole ke-8 baginya, untuk mencatatkan satu-satunya birdie pada putaran ketiga ini.

“Hole 17 itu sebenarnya hole yang susah juga. Di hole itu angin juga berembus dari belakang sehingga saya memilih menggunakan 3-wood dan menyisakan jarak sekitar 165 yard. Dari situ saya memakai pitching wedge memukul ke tengah green,” sambung Danny.

Meski bolanya berada di tengah green, ia harus menghadapi putt yang menurun. Tapi dengan kondisi angin yang berlawanan dengan arah putting-nya, ia pun harus berdiskusi dengan kedinya untuk memastikan apakah putting tersebut diperlakukan sebagai putting yang datar atau justru menurun.

“Soalnya saya juga khawatir kalau bola malah tidak sampai. Tapi akhirnya bola bisa masuk karena waktu putaran latihan saya pernah putting ke pin itu, jadi saya tahu kalau itu lurus,” ujar Danny lagi.

Namun, dalam 4-5 hole pertama, ia sendiri masih belum mendapatkan momentum. Bahkan ia sempat mengawali putaran ketiga yang ia awali dari hole 10 dengan bogey. Sejak bogey di hole yang menjadi hole pertamanya itu, Danny masih harus berjibaku untuk mengamankan sejumlah par, terutama setelah mendapat tiga bogey lagi di sembilan hole terakhir.

 

Danny Masrin bersiap melakukan approach ke green hole 9, yang merupakan hole terakhirnya. Ia menutup hole tersebut dengan par dan mengakhiri putaran ketiga dengan skor 3-over 75. Foto: Golfin’STYLE.

 

“Sebenarnya, kalau hari ini saya bisa bermain even par, peringkat saya mungkin bisa sedikit naik. Sayangnya, saya harus mendapat 3-over 75 hari ini (15/12),” ujarnya.

Dengan tersisa 18 hole lagi, Danny berniat untuk menuntaskan turanmen ini di posisi yang lebih meyakinkan.

“Semoga saya bisa bermain 3-5-under besok (16/12). Memang tergantung cuaca juga. Jika angin berembus seperti hari ini, lapangan akan tetap susah dimainkan.

Dengan total skor 3-over 219, Danny untuk sementara terpaku di peringat 51 bersama enam pegolf lainnya. Untuk sementara, peringkatnya ini memang lebih baik ketimbang pencapaian George Gandranata tahun lalu. Kala itu, George finis di peringkat T56 dengan torehan 1-under 287.

Pada putaran final besok (16/12), Danny akan bermain bersama juara Panasonic Open India 2018 Khalin Joshi dan rekan senegara Joshi, M. Dharma. Mereka akan memulai putaran final dari hole 10 pada pukul 09.00.

Sementara itu, di puncak klasemen pegolf asal Thailand yang juga merupakan juara turnamen ini pada tahun 2016, Poom Saksansin, berhasil mempertahankan posisinya di puncak klasemen. Ia mencatatkan skor 2-under 70, sekaligus mengumpulkan skor total 16-under 200. Ia memegang keunggulan dua stroke dari pesaing terdekatnya, bintang Ryder Cup Eropa Henrik Stenson yang kembali bermain dengan skor 68.

Meskipun berada di peringkat T4, sang juara bertahan dan pegolf No.2 dunia Justin Rose berada jauh di belakang Poom maupun Stenson. Dengan skor total 9-under 207, Rose mesti mengulangi permainan istimewa seperti yang ia lakukan pada 2017 lalu dengan catatan 10-under 62, sembari berharap para pegolf lainnya mengalami kesulitan memainkan babak terakhir.

Leave a comment