Im Sungjae berharap bisa bersaing untuk menjuarai FedExCup ketika TOUR Championship mulai digelar Kamis (2/9) besok.

Setelah sekian lama, Im Sungjae akhirnya bisa menikmati tidur di atas kasur di rumah sendiri. Kenyamanan tersebut ia harapkan bisa membantunya untuk bersaing memperebutkan hadiah utama PGA TOUR, FedExCup, ketika TOUR Championship mulai digelar hari Kamis (2/9) besok.

Bintang golf asal Korea ini telah memastikan tampil untuk ketiga kalinya pada ajang elite yang hanya diikuti oleh 30 pegolf itu. Ajang Playoff Final ini sekaligus akan menjadi penutup dari musim super PGA TOUR yang terdiri dari 50 turnamen dan 6 kejuaraan Major.

Akhir tahun lalu, Im membeli rumah di Atlanta sehingga kepastian untuk mengikuti TOUR Championship pekan ini akan membuatnya bisa tidur di rumah sendiri, menikmati masakan rumah, dan membuatnya hanya membutuhkan 35 menit berkendara menuju East Lake Golf Club, yang sekali lagi menjadi tuan rumah untuk ajang TOUR Championship.

”Sungguh nyaman rasanya bisa tidur di rumah,” ujar Im sambil tersenyum. Baginya, ajang pada pekan ini akan menjadi turnamen ke-35 yang ia ikuti pada musim ini sehingga menjadikannya sebagai pegolf yang paling banyak mengikuti ajang PGA TOUR. ”Saya sudah berharap bisa bermain pada TOUR Championship dan bisa berangkat dari rumah, dan kini mimpi itu menjadi kenyataan.”

”Saya ingin melakukan yang terbaik. Saya ingin mendapatkan skor yang lebih baik daripada tahun lalu dan setahun sebelumnya.”

Sejak FedExCup dimulai pada tahun 2007, belum pernah ada seorang pegolf Asia pun yang berhasil menjuarainya. Prestasi terbaik dilakukan oleh legenda Korea, K.J. Choi, tatkala ia finis di tempat kelima pada tahun pertama. Im, yang terkenal dengan swing-nya yang mulus, finis di peringkat 19 pada klasemena akhir FedExCup 2019 untuk kemudian menyabet predikat Rookie of the Year. Tahun lalu ia memperbaiki posisinya ke peringkat 11 dan sempat memasuki putaran ketiga TOUR Championship 2020 itu dengan terpaut satu stroke di belakang Dustin Johnson, yang kemudian keluar sebagai pemenang. Dengan hadiah sebesar US$15 juta yang berhak dibawa pulang pemenangnya, TOUR Championship menjadi ajang dengan hadiah uang terbesar dalam olahraga golf saat ini.

”Saya ingin melakukan yang terbaik. Saya ingin mendapatkan skor yang lebih baik daripada tahun lalu dan setahun sebelumnya. TOUR Championship diikuti oleh para pemain kelas dunia, tapi saya akan memastikan melakukan yang terbaik dengan bersaing bersama mereka,” sambungnya lagi.

Performa Im terlihat memuncak pada saat yang tepat. Pekan lalu pada ajang BMW Championship, ia finis sendirian di tempat ketiga, yang sekaligus membantunya memulai TOUR Championship dengan tabungan 3-under pada putaran pertama, 7 stroke di belakang pegolf No.1 FedExCup saat ini, Patrick Cantlay. Kebijakan yang berlaku pada ajang ini membuat tiap pemain memiliki status par berdasarkan posisinya pada klasemen FedExCup setelah BMW Championship.

Im menyebut latihannya bersama pelatih fisik untuk pertama kalinya sejak bulan Februari telah memberikan hasil. Selain itu, permainan putter-nya juga sangat jitu dalam beberapa pekan terakhir. Tak heran jika ia berharap bisa sekali lagi memberikan tantangan berarti di East Lake.

”Saya terpaut tujuh stroke dan bakal sangat penting untuk berpikir bermain tanpa bogey daripada menargetkan kemenangan. Ada banyak rintangan di lapangan ini, jadi saya mesti memperhatikannya, tapi ketika mesti main agresif, saya akan melakukannya. Tahun lalu saya bersaing dengan pimpinan klasemen (pada putaran ketiga) dan saya tak bakalan memberi tekanan terlalu banyak pada diri sendiri,” tutur Im, yang memimpin statistik total birdie dengan 483 birdie pada musim ini.

Jalan saya masih panjang. Sekarag saya berharap bisa tampil di Atlanta tiap tahun dan itulah target baru saya.”

Meskipun ia mematok target menjuarai setidaknya satu turnamen per musim, Im mulai merenungkan apakah target itu sendiri telah menciptakan tekanan tertentu baginya. ”Setelah Masters bulan November tahun lalu (ketika ia finis T2), peringkat dunia saya naik, jadi saya mulai merasakan tekanan. Rasanya saya perlu mempertahankan peringkat saya dan tahun ini tidaklah mudah. Saya merasa tertekan, tapi juga berusaha mengosongkan pikiran. Setelah mulai meredakan tekanan sedikit, permainan saya menjadi lebih baik. Jadi, saya pikir sangatlah penting untuk tidak mendorong diri sendiri terlalu keras, tapi menikmati tiap ajang. Ini satu tip yang saya pelajari,” ujar Im, yang sejauh ini menjuarai Honda Classic 2020 dan kini berada di peringkat 27 dunia.

”Pembentukan pukulan saya sudah cukup bagus sejak Olimpiade. Sebelumnya, saya juga mengalami kesulitan dengan putter dan sejak Playoff, putter dan pukulan saya sudah memungkinkn untuk melangkah ke TOUR Championship. Ada beberapa penyesalan juga karena saya berpeluang untuk menang pada awal musim, namun gagal memaksimalkannya. Sudah pasti saya berharap bisa menang, tapi target saya ialah mencapai TOUR Championship dan saya merasa puas untuk saat ini.”

Bisa bertanding bersama para pegolf terbaik saat ini sudah membuatnya berbangga, mengingat ini merupakan musim ketiganya bermain penuh pada PGA TOUR. Meskipun ia sendiri sudah 19 kali finis di sepuluh besar, di luar kemenangannya tahun 2020 itu, dan sudah memenangkan lebih dari US$11 juta sekaligus debut memukau pada Presidents Cup 2019, Im tidak menganggap dirinya sebagai salah seorang pegolf kelas dunia.

”Tidak(saya tidak termasuk di antaranya),” ujar Im menegaskan. ”Jalan saya masih panjang. Sekarag saya berharap bisa tampil di Atlanta tiap tahun dan itulah target baru saya.”