Li Haotong memaksimalkan jeda kompetisi dengan mempersiapkan dirinya untuk situasi ketika pertandingan bisa kembali berjalan.

Terlempar dari 50 besar dunia dan melakoni debut yang jauh dari memuaskan pada Presidents Cup tahun lalu jelas bukan hal yang membanggakan. Li Haotong menyadari hal ini. Itulah sebabnya, ketika kompetisi di seluruh dunia saat ini terpaksa berhenti lantaran pandemi COVID-19, pegolf lincah asal Hunan, China ini bergiat menempa dirinya.

Motivasi Li sangat jelas. Ia harus kembali ke jajaran elite dunia. Itulah sebabnya ia memaksimalkan waktu jeda yang panjang ini. Dan latihannya itu tak sekadar terkait dengan urusan fisik. Ia banyak membaca buku untuk memperkaya pemikirannya. Selain itu, ia juga membeli perangkat kebugaran dan simulator golf. Dengan demikian, kondisi fisiknya bisa menjadi lebih kuat dan permainannya lebih tajam.

Tapi tak sekadar latihan itu saja yang ia kerjakan. Belum lama ini ia menyumbangkan uang sebesar US$142.647 dari alokasi dana sumbangan Presidents Cup-nya ke Hubei Charity Federation untuk membantu penanganan COVID-19.

“Saya sangat tersentuh melihat para petugas yang menuju garis terdepan untuk membantu,” ujar Li, yang sukses menjuarai Order of Merit musim perdana PGA TOUR Series-China.

Berharap Bangkit Kembali
Li, yang telah mengoleksi dua gelar European Tour, berharap dedikasinya selama masa pandemi ini bisa mengembalikan performanya. Tahun lalu, ia hanya dua kali finis di sepuluh besar. Kekalahan dalam dua partai pada Presidents Cup di Royal Melbourne Golf Club bulan Desember 2019 lalu juga sedikit mencoreng debutnya sebagai pegolf China daratan pertama yang berhasil lolos kualifikasi dalam Tim Internasional.

 

 

“Saya sudah mengulas seluruh karier saya dan banyak berdiskusi dengan keluarga dan teman-teman, mencoba mencari tahu bagaimana saya bisa menjadi lebih baik. Makin memikirkan hal ini, makin kuat hasrat saya untuk kembali bermain dalam berbagai turnamen. Satu hal yang saya tahu pasti, jeda pandemi ini hanya akan membuat saya lebih mencintai golf,” paparnya.

“Saya pikir prioritas nomor satu saya (selama pandemi) ialah terus berlatih karena momen ini menjadi kesempatan terbaik untuk menyesuaikan swing dan meningkatkan kemampuan saya.”

Ia mengaku menurunnya performanya belakangan ini tak terlepas dari kesalahannnya sendiri. “Saya selalu menginginkan tiap pukulan agar selalu sempurna dan tampaknya, hal seperti itu tak bakal membantu ketika Anda tak berada dalam kondisi terbaik. Jadi, inilah yang tengah saya latih bersama teknik-teknik golf saya.”

Li menambahkan bagaimana ia menikmati membaca buku yang ditulis Eckhart Tolle, The Power of Now. Buku ini telah terjual lebih dari dua juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Buku ini menyentuh prinsip-prinsip mencari kepribadian yang terdalam dan yang sejati dalam diri seseorang.

“Saya membaca banyak buku dan belajar banyak hal baru karena membaca juga menjadi cara yang bagus untuk menghabiskan waktu. Buku Eckhart Tolle lebih menyinggung tentang cara berkomunikasi dengan pribadi terdalam dan bagaimana mencari kedamaian batin. Beberapa opini tentu bisa membantu, seperti bagaimana cara untuk bisa fokus ‘saat ini’ dan bagaimana hal ini membantu menyingkirkan beberapa pemikiran negatif. Tapi saya juga mesti jujur kalau saya tak sepenuhnya setuju dengan beberapa poin yang diangkat oleh penulis. Singkatnya, buku ini layak dibaca,” ujar Li.

“Memang saya telah memainkan beberapa putaran yang bagus pada ajang Major, tapi saya harus mempertahankan stabilitas seperti itu dan menjadi lebih kuat secara mental.” — Li Haotong

Jeda golf ini juga memungkinkan Li untuk melanjutkan kuliahnya dalam Sports Training dari Shenzen University. Selain itu, ia juga bisa meluangkan waktu berkompetisi dengan rekan senegaranya, Wu Ashun, lewat simulator golf.

“Saya bisa menuntaskan beberapa mata kuliah yang terlewat sebelumnya. Dan bermain beberapa kali lewat CGA Simulator Challenge dengan rekan tour saya Ashun juga menyenangkan,” ujarnya.

Jelas Li sangat merindukan kompetisi dan tak sabar untuk bisa kembali bermain dan merasakan adrenalinnya kembali mengalir. “(Saya merindukan) seruan dari para penonton, seluruh teman di Tour, dan lebih-lebih perasaan bersemangat setelah melakukan pukulan yang bagus ketika berkompetisi,” ujar pegolf bertubuh kurus ini.

Menghargai Pencapaian Karier
Situasi kesehatan saat ini masih mengingatkan Li untuk menghargai hal-hal yang telah ia raih dalam rentang kariernya yang, walaupun singkat, telah memberinya dua gelar European Tour. Dia juga menang tiga kali pada PGA TOUR Series-China 2014 untuk menjadi pemain nomor satu pada sirkuit pengembangan tersebut.

“Saya bersyukur tak satu pun anggota keluarga dan sahabat saya yang terkena virus ini secara langsung. Ibu saya sangat berhati-hati dan ketika saya sedang mengikuti turnamen beberapa bulan lalu, ia selalu membagikan sejumlah tips dan mengingatkan saya untuk sering mencuci tangan dan mengenakan masker,” tuturnya.

 

Meskipun menjalani debut yang mengecewakan pada Presidents Cup bulan Desember 2019, Li Haotong menegaskan hasratnya untuk bisa kembali menjadi bagian Tim Internasional di Quail Hollow Club tahun 2021. Foto: IMG.

 

“Kita kehilangan banyak nyawa setiap harinya. Seluruh industri juga terhantam pandemi dan banyak orang yang mengkhawatirkan pekerjaan dan pemasukannya. Saya yakin kita dapat melewatinya selama kita bersatu dan saling membantu.”

Li juga tidak meninggalkan impiannya untuk bersaing penuh di panggung PGA TOUR. Ia juga berniat untuk bisa kembali bermain pada ajang Presidents Cup tahun depan di Quail Hollow Club, Charlotte, North Carolina.

“PGA TOUR menjadi Tour yang paling menantang di mana Anda harus mengeluarkan permainan terbaik menghadapi para pemain terbaik di dunia tiap pekan dan bertahan di peringkat atas. Memang saya telah memainkan beberapa putaran yang bagus pada ajang Major, tapi saya harus mempertahankan stabilitas seperti itu dan menjadi lebih kuat secara mental. Inilah yang saat ini tengah saya latih,” ujarnya.

“Pengalaman (Presidents Cup tahun lalu) sulit saya lupakan. Dan saya masih merasa bersemangat jika mengingat-ingat pengalaman itu. Saya memang tidak bermain dalam tiap putaran dan saya percaya kepada kapten kami (Ernie Els) dan tiap keputusan yang ia buat. Sejujurnya, saya mestinya bermain lebih baik dalam dua partai yang saya mainkan, tapi sayangnya hasilnya justru sebaliknya. Dan itulah bagian yang paling mengecewakan dalam debut Presidents Cup saya. Tapi, seperti yang telah saya sampaikan setelah turnamen itu, saya yakin saya bisa membuktikan diri saya lagi jika mendapat kesempatan dalam Tim Internasional lagi.

“Saya sangat menyukai atmosfer pada Presidents Cup. Atmosfer ini takkan Anda ketahui sampai benar-benar berada di sana. Debut saya memang tidak bagus, tapi saya ingin kembali dan membuktikan diri sendiri.”