Dalam segmen Players’ Blog kali ini Brooks Koepka menuturkan dari mana semangat kompetitifnya berasal.

Oleh Brooks Koepka

Ketika saya tumbuh besar, segala sesuatunya tampak selalu sulit. Waktu saya kecil dulu kami tidak punya banyak uang, jadi saya tak bisa selalu mengikuti turnamen golf sebanyak yang saya inginkan. Bahkan pada dasarnya kami tidak bisa membayar pelatih. Tak pernah ada seorang pun yang melatih saya.

Mungkin itulah sebabnya mengapa saya tidak segera condong ke golf. Siapa yang tahu? Sejujurnya, saya lebih tertarik pada baseball ketika masih kecil. Dan saya selalu suka bermain basket juga, meskipun postur saya tak cukup besar. Sebgai anak kecil, rasanya saya selalu tertarik pada hal-hal lain selain golf, dan meski demikian, saya akhirnya berfokus pada golf. Sepertinya saya memilih olahraga yang tepat.

Saya berterima kasih kepada adik saya, Chase, untuk hal ini. Kami baru saja belajar bermain dan membuat golf itu menyenangkan ketika bermain bersama. Dan saya pikir itulah bagian terpenting dari daya tarik olahraga ini. Saya ingat orangtua saya mengantar kami sekitar pukul 07:30 pagi dan kami baru pulang setelah gelap. Kami masih berada di putting green, mengendap-enedap untuk melakukan beberapa pukulan flop, meskipun hal ini sebenarnya melanggar peraturan. Kami hanya melakukan chip, putt, dan bersenang-senang. Begitulah tiap musim panas. Rasanya seperti mimpi dan saya berharap bisa melakukannya lagi hari ini. Kalau punya anak nanti, saya ingin bisa bermain di lapangan dan sekadar bermain sepanjang hari. Bersenang-senang itu penting, dan Anda mesti ingat bahwa golf itu masih menyenangkan, meskipun kami bermain untuk berbagai hal berbeda dan berusaha memenangkan banyak turnamen.

 

Golf tidak pernah menjadi olahraga pilihan Brooks Koepka ketika ia masih kecil. Foto: Dok. Pribadi Brooks Koepka.

 

Saya ingat seorang anak bernama Kenny Leech, yang sudah saya kenal sejak usia 10 tahun. Dia pemain yang luar biasa. Dia mengalahkan saya untuk jangka waktu yang sangat panjang sampai kami kuliah. Bisa saya bilang selama sepuluh tahun persis, ia benar-benar melukai saya. Saya tak ingat mengalahkan dia, dan dia hampir selalu mengalahkan saya. Saya benci kalah. Tak masalah entah itu ping pong, bilyar, dart, apa pun itu, saya tak tahan kalah. Kekalahan membuat saya kesal. Jadi, kapan pun saya bisa mengalahkan Anda, bahkan ketika saya kalah, saya akan kembali melihat satu kemenangan itu. Itulah yang terpatri dalam diri saya.

Ketika kuliah, saya ingat memiliki sejumlah uang tersisa dari beasiswa saya pada Florida State University untuk bermain dalam beberapa turnamen. Saya selalu mengikuti sebuah turnamen dengan keyakinan penuh pada diri sendiri. Saya pikir hal ini selalu saya miliki, yaitu kemampuan untuk selalu yakin pada diri sendiri meskipun segalanya berjalan lancar atau sebaliknya. Kalaupun tidak berjalan muncul, tetaplah berada di lapangan, dan segalanya akan baik-baik saja. Rasanya sih saya sudah melakukannya dengan baik.

Kalau diingat-ingat, saya pikir saya menjuarai lima turnamen sebagai junior di Tallahassee. Bukannya saya menang secara konsisten dan saya bukan bocah ”itu”. Saya bukanlah yang terbaik. Dan ketika Anda bukan yang terbaik, saya pikir Anda akan menjadi sangat ingin menang, Anda selalu ingin menjadi sesuatu yang tidak bisa Anda capai. Dan saya pikir itulah yang mendorong saya dan membawa saya melampaui segalanya. Finis di tempat kedua atau ketiga, apalagi yang lebih buruk lagi, benar-benar menyakitkan dan saya menelannya bulat-bulat. Itulah sebabnya mengapa saya sangat kompetitif.

”Terkadang saya disalahmengerti karena blak-blakan, tapi saya pikir beberapa orang juga tidak bisa menghadapi kenyataan.”

Saya pastikan, saya pasti akan berlatih keras sebisa mungkin, ketika secara fisik saya tidak bermasalah. Saya selalu berada di lapangan, tiap hari berlatih dan berusaha mencari cara, terutama belakangan ini ketika saya sedikit merasa kesulitan. Jadi, saya menghabiskan waktu berjam-jam. Biasanya saya pulang, rebahan di sofa, dan langsung pulas. Tak ada yang tersisa, tak ada energi yang tak digunakan.

Dalam olahraga, Anda tentu sering melihat para atlet yang menemukan sesuatu untuk memotivasi mereka. Anda menemukan sesuatu dan menggunakannya untuk memotivasi diri sendiri untuk menunjukkannya atau mengalahkan yang lain. Saya akan melakukan hal-hal kecil, entah itu bermain dengan seseorang selama semionggu atau dua hari pertama. Dan Anda hanya ingin menunjukkan kemampuan Anda, menunjukkan apa yang Anda miliki. Saya pikir sangatlah penting menciptakan duel-duel kecil dalam benak saya. Saya senang kalau ada orang yang mengatakan kalau saya tak bisa melakukan sesuatu. Saya senang membuktikan kalau mereka salah.

Terkadang saya disalahmengerti karena blak-blakan, tapi saya pikir beberapa orang juga tidak bisa menghadapi kenyataan. Saya pikir itulah perbedaan besarnya. Saya akan memberi tahu Anda kalau saya main bagus, kalau saya main buruk, atau bagaimana perasaan saya tentang sesuatu. Banyak yang tidak menyukai kenyataan. Mereka tak ingin mendengarnya dan tak bisa menerimanya. Namun, saya akan mengungkapkannya kalau melihatnya, jadi kalau menurut saya Anda bertingkah seperti anak kecil di lapangan golf, saya takkan segan mengatakannya. Sering kali saya takkan mengatakan sesuatu kecuali ada yang menanyakannya. Saya bisa mengkritik keras dan saya juga bisa menerimanya, jadi kalau saya melakukan sesuatu yang salah, saya akan langsung mengakuinya.

 

Brooks Koepka menyebut peran saudaranya, Chase, dalam membuatnya lebih tertarik bermain golf. Foto: Dok. Pribadi Brooks Koepka.

Saya tahu makin besar panggungnya dan makin terang lampu sorotnya, makin siap pula saya untuk bersaing. Dan saya pikir Anda harus berada dalam mentalitas yang berbeda untuk hal tersebut. Saya berkembang dari hal itu. Saya harus selalu berusaha untuk segalanya. Itulah sebabnya saya selalu menikmati membuktikan kalau orang lain salah. Hal itu jelas sangat menyenangkan. Orang-orang yang selalu mendukugn saya adalah diri saya dan keluarga saya, dan hanya itu. Orang lain berusaha mengalahkan saya.

Dalam karier saya saat ini, rasanya saya bisa dengan mudah memiliki enam Major atas nama saya, dan bakal sering pula saya meraih tempat kedua. Saya ingin meraih 25 kemenangan pada PGA TOUR. Itu target nomor satu saya, dan setelah itu, mungkin mengejar 10 Major.

Kenapa tidak menargetkan setinggi mungkin? Sisi kompetitif yang samalah yang membawa saya sampai pada saat ini. Mungkin saya harus berterima kasih kepada Chase dan Kenny karenanya.

CATATAN: Brooks Koepka telah memenangkan tujuh gelar PGA TOUR, termasuk empat gelar Major. Anda bisa menyaksikan aksinya dan ajang PGA TOUR melalui GOLFTV powered by PGA TOUR.