Rory McIlroy kini tak hanya menjadi seorang pegolf, tapi juga menjadi seorang pembaca buku. Dan buku-buku yang ia baca terbukti membantu membawanya ke posisinya yang sekarang, yaitu No.1 Dunia.

Oleh Cameron Morfit, PGATOUR.com

Pertama-tama, buku yang dimaksud bukanlah e-book, buku audio, komik, buku green-reading, atau buku yardage. Buku yang dimaksud adalah buku kertas yang dijilid.

”Buku-buku,”, ujar Rory McILroy. ”Ada beberapa beberapa buku di ponsel saya dan e-book itu hanya sebagai referensi. Anda bisa menyoroti beberapa hal di sana, tapi saya lebih suka memegang buku dan membolak-balik tiap halaman.”

Benar, para Pembaca yang budiman, Juara FedExCup ini seorang pembaca buku. McIlroy dan istrinya, Erica, memiliki perpustakaan kecil di rumah mereka di South Florida. Meskipun banyak yang sekadar menjadi dekorasi, banyak pula yang memiliki nilai lebih daripada sekadar hiasan.

”Erica lebih getol lagi soal membaca,” ujar McIlroy, ”mungkin bukan buku-buku tipe self-help, sedangkan saya cenderung memilih jenis seperti itu untuk mengetahui bagaimana cara kerja pikiran dan pendekatan terhadap segala sesuatunya.”

Mengingat ia mengakhiri musim lalu dengan menjuarai THE PLAYERS, RBC Canadian Open, TOUR Championship, dan FedExCup, serta Player of the Year, sedang musim ini ia telah menambah satu kemenangan lagi (World Golf Championship-HSBC Champions) dan kembali menjadi No.1 Dunia, Anda bisa bilang bahwa langkah yang ia ambil merupakan jalur yang tepat baginya.

Membaca ternyata telah memberi kekuatan tersendiri baginya. Hindari reaksi yang besar. Itulah salah satu prinsip yang McIlroy dapatkan dari salah satu penulis favoritnya, Ryan Holiday, yang mengadaptasi figur-figur stoik, seperti Marcus Aurelius dalam bukunya The Obstacle is the Way dan The Ego is the Enemy.

”Tidak terbawa emosi,” ujar McIlroy, yang dalam setahun terakhir telah berteman dengan sang penulis. (Mereka sesekali bertukar email.) ”Tidak bersikap impulsif, sedikit lebih rasional, mengambil langkah mundur untuk memikirkan segala sesuatunya secara logis. Hal-hal tersebutlah yang membantu saya.

 

“The Greatest Salesman in the World” karya Og Mandino dan edisi terjemahan dalam bahasa Indonesia, serga “Digital Minimalism” karya Cal Newport.

 

”Kalau Anda melihat kembali pada THE PLAYERS (2019),” imbuhnya, ”Dari memimpin atau berbagi posisi teratas sampai tertinggal dua stroke, saya tidak terdorong untuk berusaha mengejar birdie. Saya malah bersikap, oke, tidak apa-apa, masih ada beberapa hole lagi. Ada banyak hal yang bisa terjadi, tetap sabar saja, tenang saja, dan semua kata-kata tersebut, yang biasa saya gunakan. Semua itu berasal dari bacaan dan sedikit berefleksi ke dalam serta memperkirakan apa yang mesti saya lakukan untuk bisa main maksimal.”

Pada akhirnya, McIlroy berhasil bangkit, bahkan memenangkan ajang flagship PGA TOUR tersebut.

Kata-kata yang tertulis itu berhasil terwujudkan. Ketika ditanya pada The Masters tahun lalu judul buku terbaik yang ia baca dalam 12 bulan terakhir, secara mengejutkan, McIlroy menyebutkan sejumlah judul buku.

The Greatest Salesman in the World karya Og Mandino, itu salah satu buku yang cenderung menjadi referensi saya,” balas McIlroy. ”Buku-buku yang ditulis Ryan Holiday juga cukup bagus, The Obstacle is the Way atau Ego is the Enemy. Saya baru saja mulai membaca biografi Steve Jobs oleh Walter Isaacson. Empat buku itu (pilihan saya).”

Tapi ia segera menyebut buku kelima, Digital Minimalism oleh Cal Newport. McIlroy, yang telah menghapus sejumlah aplikasi dari ponselnya, bertanya-tanya apa yang dilakukan layar ponsel kita terhadap diri kita dan berusaha untuk mengurangi bahkan tak bersentuhan dengan ponselnya itu pada pekan-pekan turnamen. Ia lebih memilih bermain bongkar pasang (puzzle) dan, tentunya, membaca buku-buku.

Tapi mengapa memutuskan demikian? Bukan karena McIlroy, sebagai anak tunggal, mengisi kesendiriannya dengan membaca buku. Bukan pula karena ia terobsesi dengan urusan akademik. ”Urusan akademik bukan keunggulan saya,” ujarnya dalam wawancara panjang dengan Irish Independent. ”Kemampuan saya cukup bagus untuk lulus, tapi tidak pernah benar-benar sampai menguasai dengan sangat baik.”

Pada ajang Ryder Cup 2018 di Perancis, McIlroy menemukan penulis favorit lainnya, yaitu Mark Manson, penulis The Subtle Art of Not Giving a F—: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life, disusul dengan Everything is F—–: A Book About Hope. Seperti yang tertera pada judul buku tersebut (yah…kami sedikit terusik juga), kedua buku tersebut sama-sama mendalam, tapi juga terkesan tak sopan. Tapi kedua buku itu juga sama-sama lucu.

 

“Ego is the Enemy” dan “The Obstacle is the Way” karya Ryan Holiday, yang kemudian menjadi teman Rory McIlroy.

 

”Rekan (Kapten Tim Eropa) Thomas Bjorn, Grace, memberi buku Mark Manson (Subtle Art) kepada semua istri (pemain),” ujar McIlroy. ”Istri saya membacanya lebih dulu sebelum kemudian memberinya kepada saya dan berkata, ’Menurutku kamu perlu membaca buku ini. Buku ini benar-benar bagus.’ Buku itu menjadi sangat penting buat saya.”

Judul buku itu menjadi daya tarik awal, dan karena itulah, McIlroy mengakui, ”Terkadang saya terlalu memedulikan banyak hal.” Tapi tak hanya poin tersebut yang ia peroleh.

Dalam buku The Subtle Art, Manson menulis tentang kesengsaraan manusia di tengah begitu banyak daftar kemajuan (dari Internet sampai penyembuhan berbagai penyakit) yang mestinya perlu dipikirkan seseorang untuk menjadi lebih bahagia. Penyebabnya: pemikiran bahwa kita bisa memiliki segalanya, dan semua orang bisa menjadi megabintang.

Kunci untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, tulisnya, ialah memikirkan ”hal-hal yang sejati dan mendesak dan penting”, dan tidak terjebak pada apa yang filsuf Alan Watts sebut sebagai ”hukum kemunduran”, jebakan untuk mengejar perasaan menjadi lebih baik/lebih kaya/lebih kurus hanya untunk mendorong rasa ketidakpuasan.

”Hasrat untuk memiliki pengalaman yang lebih positif merupakan pengalaman yang negatif,” tulis Manson. ”Dan, yang paradoksnya, penerimaan terhadap pengalaman negatif seseorang itu sendiri merupakan pengalaman yang positif.”

Mungkin inilah yang McIlroy pikirkan ketika memberi tahu Ewen Murray dari The Guardian bahwa langkah terakhir baginya ialah pola pikir, misalnya, ”ketika Anda berada dalam posisi bersaing, tidak mempedulikan apakah Anda akan menang atau tidak”. Dengan kata lain, psikolog olahraga mungkin akan menyarankan betapa pentingnya untuk merelakan apa yang sudah terjadi.

”Ia menyinggung mengenai bagaimana semua orang ingin menjadi lebih cerdas, lebih menarik, lebih kaya,” tutur McIlroy mengenai buku Manson, ”dan mereka tidak melihatnya dengan lebih dalam dan bertanya, ’Mengapa saya menginginkan hal-hal ini? Apa salahnya menjadi diri saya saat ini?’ Pemikiran orang-orang bahwa keinginan-keinginan tersebutlah yang pada akhirnya akan membuat mereka lebih bahagia. Tapi buku ini justru mengajak orang untuk menjadi bahagia dari hal-hal sederhana dalam kehidupan.

 

Dua buku karya Mark Manson yang kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Grasindo.

 

”Sebagai contoh,” sambungnya, ”Saya pulang berbelanja hari Senin sepulang mengikuti sebuah turnamen, dan buat saya aktivitas ini menyenangkan. Bagi banyak orang mungkin kegiatan ini adalah sesuatu yang biasa saja. Tapi buat saya, bisa memiliki waktu jeda, pergi ke Whole Foods dan belanja grosir adalah suatu berkah tersendiri.”

Beberapa hal yang ia baca bisa terkesan berlawanan. Jika Holiday menekankan sikap stoisisme, Manson menekankan, dalam bukunya Everything is F—–, mustahil untuk sepenuhnya menyingkirkan emosi, apalagi mengubahnya menjadi kentang.

McIlroy telah bergumul dengan paradoks ini sepanjang musim panas yang lalu. Setelah memutuskan untuk memperlakukan tiap putaran dengan sama, ia harus menerima kekalahan ketika berhadapan dengan pegolf No.1 Dunia kala itu, Brooks Koepka pada ajang World Golf Championships-FedEx St. Jude Invitational. (Koepka membukukan skor 65 pada hari terakhir untuk meraih kemenangan, sedang McIlroy bermain 71 dan finis T4.)

Ketika mereka bertemu empat pekan kemudian pada putaran final TOUR Championship, McIlroy bertekad untuk tak lagi memperlakukan putaran final hanya sebagai putaran lainnya. Ia memberi penekanan khusus. Hasilnya sangatlah memuaskan. Ia main 66 dan menang, sedang Koepka bermain 72 dan finis T3.

Pelajarannya: emosi adalah hal yang buruk, kecuali ketika sedang bagus-bagusnya.

Ketika usai meraih kemenangan, McIlroy berusaha menerima kemenangan itu seperti yang disarankan Holiday, yaitu seperti yang dilakukan Marcus Aurelius: tanpa arogansi, sama seperti ketika ia merelakan kemundurannya dengan sikap tidak peduli. Rory masih akan menjadi Rory yang belanja apel organik dan kebutuhan lainnya di Whole Foods, dan bagi istrinya, dan perpustakaan kecil mereka di rumah. Semua itu menantinya ketika ia pulang, entah sebagai pahlawan yang menang, entah sebaliknya.

Bagi Rory McIlroy, yang adalah seorang pegolf, pembaca buku, dan masyarakat dunia, fokusnya kini ia tujukan ke bab berikutnya.