Beberapa pegolf profesional menuturkan apa rasanya bermain pada ajang istimewa seperti HSBC Women’s World Championship?

HSBC Women’s World Championship pekan ini merupakan ajang elite yang hanya diikuti oleh para pemain top dunia, serta para pemain undangan. Dengan mayoritas adalah pemenang pada LPGA Tour dan Major, tidaklah mengherankan jika kejuaraan ini disebut sebagai ajang Major Asia, meskipun tidak secara resmi.

Penyelenggaraan pekan ini menandakan kembalinya ajang olahraga berskala besar ke Singapura dan Asia Tenggara, setelah SMBC Singapore Open digelar jelang pandemi COVID-19.

Eksklusivitas kejuaraan ini juga terlihat dari jumlah peserta yang hanya mencapai 69 peserta pada pekan ini. Dan sepanjang sejarahnya total peserta terbanyak ialah 78 pemain pada tahun 2009, sebelum kemudian jumlah itu menjadi di kisaran 60-an sejak 2010.

Selain itu, ajang ini juga tidak memberlakukan cut-off sehingga membuat semua peserta memiliki kesempatan penuh selama empat hari untuk mencatatkan hasil terbaiknya.

Bagi para pegolf profesional ini, kesempatan tersebut turut menjadikan ajang ini menjadi sangat istimewa dan membuat mereka sangat senang bisa bertanding di Singapura.

”Ajang ini merupakan turnamen dengan peserta yang terbatas dan kami sangat beruntung bisa bertanding memperebutkan hadiah yang yang besar dan para sponsor juga senang melihat kami bermain di sini, jadi saya sangat bersyukur bisa datang ke sini,” tutur pemegang Major asal Australia, Hannah Green.

”Saya pikir, bermain di Asia tanpa cut, membuat Anda merasa tiap hari adalah hari untuk dimaksimalkan.” — Ally Ewing.

Green sendiri menampilkan permainan yang sangat bagus pada dua putaran pertamanya bermain di Sentosa Golf Club ini. Setelah hanya bermain 1-under 71, hari ini (30/4) ia menorehkan skor 6-under 66, dan menjadi salah satu pemain yang bermain dengan skor rendah.

”Singapura adalah satu dari dua negara yang belum pernah saya tuju untuk bermain golf di Asia, sesuatu yang sebenarnya tidak lumrah juga karena rumah saya begitu dekat. Hanya butuh penerbangan lima jam dari Perth dan zona waktu kami juga sama. Pengalaman pertama tahun 2021 ini jelas sedikit berbeda, namun saya merasa sangat disambut di Singapura.”

Pegolf Amerika Serikat, Ally Ewing, juga menjadi salah satu pemain debutan pada pekan ini. Baginya, kesempatan bermain penuh selama empat hari memberinya kesempatan memperbaiki permainan pada hari sebelumnya.

”Setelah kemarin, saya merasa melakukan beberapa swing yang buruk dan bisa mendapat birdie di hole terakhir rasanya seperti sudah lolos cut bahkan ketika bermain 1-over sehingga hari ini saya merasa lebih baik ketika memulai permainan,” tutur pemain berusia 28 tahun ini.

”Saya pikir, bermain di Asia tanpa cut, membuat Anda merasa tiap hari adalah hari untuk dimaksimalkan, dan setelah tidak bermain dengan baik kemarin, saya merasa masih ada putaran bagus jika bisa bermain dengan baik dan melakukan apa yang harusnya saya kerjakan.”

Hal senada juga diungkapkan pemegang enam gelar LPGA dan dua gelar Major Ryu Soyeon.

 

Ryu Soyeon menilai ajang tanpa cut-off memberi kesempatan yang lebih banyak untuk finis lebih baik. Foto: Getty Images.

 

”Saya pikir ajang tanpa cut-off memberi kesempatan lebih kepada kami, bahkan ketika Anda tidak bermain bagus dalam dua putaran pertama, Anda masih punya dua putaran lagi dan masih punya kesempatan untuk bermain dengan skor yang sangat rendah dan mengakhirinya dengan posisi yang tinggi,” tutur pegolf berusia 30 tahun ini.

”Jadi, saya pikir ajang seperti ini jelas memberi kami lebih banyak kesempatan dan lebih memiliki percaya diri, dan karena saya memulai permainan dengan baik hari ini (kemarin, 29/4), saya ingin mempertahankan skor saya tetap rendah dalam tiga hari ke depan.”

Sementara itu, pegolf asal Spanyol, Carlota Ciganda, yang sudah beberapa kali bermain di sini menambahkan bahwa absennya kejuaraan ini dari agenda kompetisi pada tahun lalu membuatnya merasa kehilangan atmosfer yang kerap ia peroleh ketikab erada di Singapura.

”Saya sangat suka bermain di sini. Saya suka bermain di Asia. Memang tahun ini sedikit berbeda, tapi saya selalu senang bisa kembali ke sini,” ujar pemegang dua gelar LPGA dan empat gelar Ladies European Tour ini.

”Cuaca di sini selalu terasa panas, tapi sejujurnya, tidak bermain pada ajang ini tahun lalu membuat saya merasa kehilangan. Ini masih awal tahun, jadi saya masih punya energi yang cukup untuk bertanding.”

Dengan total hadiah sebesar US$1,6 juta—sejuta lebih besar daripada 2019—pada edisi 2021 ini, sang juara kali ini akan membawa pulang US$240.000 atau sekitar Rp3,47 milyar. Angka ini lebih banyak US$15.000 ketimbang dua tahun lalu. Adapun pegolf yang berada di posisi terbawah masih membawa pulang hadiah sebesar US$3.350 (sekitar Rp48 juta).