Australian Master of the Amateurs menjadi ajang yang sangat baik untuk memulai tahun 2019. Bagi kedua wakil Indonesia yang berlaga di West Course The Royal Melbourne Golf Club tersebut, kondisi lapangan dan nuansa kompetisi elit yang diikuti memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam karier golf mereka.

Jeda kompetisi dan kondisi fisik yang tidak prima, plus menghadapi lapangan yang benar-benar memberi tantangan yang sangat berat, bahkan bagi para pegolf elit dunia sekalipun, baik Naraajie maupun Almay harus mengakhiri turnamen dengan catatan skor yang tidak memuaskan.

Pada putaran final yang berlangsung kemarin (12/1), Naraajie hanya membukukan skor 77. Ia sempat mengawali putaran final itu dengan birdie di hole pertama. Namun, birdie itu menjadi yang pertama sekaligus terakhir di sembilan hole pertama yang ia mainkan dari hole 10. Setelah itu ia membukukan sebuah bogey dan double bogey di hole 11 dan 16. Ia kembai mendapat double bogey di hole 2, dan bogey di hole 5 dan 7, sebelum akhirnya menorehkan birdie lagi di hole 8. Skor 77 pada hari terakhir itu membuatnya harus menerima skor total 311 dan harus finis di peringkat 76.

Skor tersebut jelas jauh dari standard yang dimiliki oleh pegolf amatir nomor satu di Indonesia itu. Tapi bermain di lapangan yang disebut-sebut sebagai lapangan No.1 di Australia, plus dalam kondisi mengalami demam dengue ringan, jelas tidaklah mudah.

“Latihan dalam skala high performance perlu lebih banyak dilakukan untuk mengeluarkan potensi setiap pegolf nasional.” – David Milne, Pelatih Indonesia

Adapun Almay berhasil finis dengan hasil yang sedikit lebih baik. Ia mencatatkan skor dengan dua stroke lebih baik daripada Naraajie. Pada putaran final itu, Almay yang juga mengawali hari terakhir dari hole 10 West Course mencatatkan tiba bogey dan berhasil menutup turnamen dengan sebuah birdie di hole ke-72.

“Alhamdulilah saya bisa mendapat kesempatan. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga,” ujar Almay yang finis di peringkat 72.

Meskipun sempat mengawali turnamen dengan main cukup solid dan membukukan even par 72, Almay yang baru kali ini turun pada turnamen ini memang mengalami kesulitan beradaptasi dengan fairway dan green yang keras dan licin, plus embusan angin kencang, kondisi pertandingan yang jauh dari biasanya.

Embusan angin yang bisa mencapai 25 km/jam memang bukan sesuatu yang bisa didapatkan di Indonesia. Tidaklah mengherankan jika negara-negara, seperti Australia, Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, dan Skotlandia menempati posisi sepuluh besar. Kondisi angin kencang adalah sesuatu yang lumrah mereka dapati. Hal ini pun menjadi masukan berharga bagi Persatuan Golf Indonesia (PGI) agar bisa mengirimkan para pemainnya untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan yang dilangsungkan dalam kondisi serupa.

“Para pegolf elit Indonesia perlu mendapatkan pelatihan di bawah kondisi yang demikian (berangin kencang) untuk meningkatkan skor mereka,” ujar David Milne, Pelatih Indonesia yang ikut mendampingi Almay dan Naraajie.

Bermain dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih membuat Naraajie Emerald Ramadhan Putra kesulitan untuk mengeluarkan permainan terbaiknya di tengah tantangan West Course yang sangat berat. Foto: AMOTA 2019.

Meski membukukan skor yang jauh dari standar masing-masing pemain, Milne menjamin bahwa dari aspek teknik permainan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kedua pemain muda ini.

“Pertama-tama, (dari segi aspek permainan) tidak ada yang ‘rusak’ dari mereka, jadi tidak ada yang mesti diperbaiki,” jelas Milne.

Milne melanjutkan bahwa kedua pemain muda ini memiliki tantangannya masing-masing. Ia menyebut Almay sebagai pemain yang sebenarnya memiliki semua potensi yang dibutuhkan untuk bersinar, namun percaya diri dan keyakinan diri menjadi tantangan terbesar baginya. Sementara, meskipun sudah membuktikan diri sanggup bersaing pada turnamen-turnamen berlevel tinggi, Naraajie terbebani oleh ekspektasi publik, sesuatu yang jelas harus bisa ia terima lantaran inilah konsekuensi menjadi pemain amatir nomor satu di Indonesia.

“Pada kenyataannya, latihan dalam skala high performance perlu lebih banyak dilakukan untuk mengeluarkan potensi setiap pegolf nasional. Hal inilah yang masih diproses dalam jalur pengembangan pemain jangka panjang,” tandas Milne lagi.

Pekan depan, Naraajie akan mewakili Indonesia bertanding pada Australian Amateur Championship yang akan dilangsungkan di Woodlands Golf Club dan Spring Valley Golf Club, Victoria. Naraajie akan memulai dengan bermain di Woodlands Golf Club terlebih dahulu.

Leave a comment