Namanya mulai diperbincangkan untuk masuk World Golf Hall of Fame, sebuah pencapaian yang istimewa, namun Adam Scott memiliki fokus yang jelas.

 

Tak banyak yang berubah dari Adam Scott jika melihat penampilan luarnya. Ia masih tampak seperti ketika meninggalkan kuliahnya tahun 2000 dan menjadi pegolf profesional. Masih terlihat culun dan senyumnya tak pernah hilang. Swing-nya yang mulus seperti dalam buku teks masih membuat iri para pegolf muda di seluruh dunia.

Tapi Scott bukan sekadar pegolf tampan yang sanggup mengembalikan clubface-nya ke arah bola, seperti pegolf mana pun di seluruh dunia. Secara pribadi dan sebagai pegolf, ia telah tumbuh secara dramatis.

Hari ini ia genap berusia 40 tahun. Dan sejauh ini, pegolf Australia ini telah menjadi figur terdepan dalam olahraga golf internasional, baik dalam tindakannya maupun perkataannya. Ia telah menjadi pria yang berkeluarga dengan seorang istri dan dua putranya yang masih kecil.

Dengan kesuksesannya yang terus berlanjut, ia telah membawa dirinya masuk dalam pembicaraan terkait dengan World Golf Hall of Fame.

 

Adam Scott membukukan skor total 11-under 273 untuk meraih gelar Genesis Invitational sebagai kemenangan PGA TOUR ke-14 dalam kariernya. Foto: Getty Images.

 

Layak Masuk World Golf Hall of Fame
Saat ini, Scott membiarkan orang lain yang menentukan warisannya. Ia hanya tertarik menjuarai lebih banyak turnamen, terutama Major.

”Menjuarai banyak turnamen adalah target saya dan saya juga mencurahkan fokus yang lebih besar lagi untuk kejuaraan Major. Target saya saat ini ialah mempertahankan permainan saya untuk meraih spot sehingga saya lebih realistis. … saya ingin bisa kembali ke posisi demikian dan melihat apakah saya bisa menambah gelar Major tahun ini.”

Performa Scott terlihat kembali pada awal 2020 ketika ia mengakhiri periode empat tahun tanpa kemenangan dengan dua stroke keunggulan pada Genesis Championship di Riviera Country Club, di luar Los Angeles. kemenangan itu membuat mantan juara THE PLAYERS ini untuk kembali merambat ke 10 besar setelah sempat berada di peringkat 82 pada Juli 2018.

Kemenangan itu memberinya gelar PGA TOUR ke-14 dalam kariernya—ia berada di posisi 65 dalam daftar peraih gelar sepanjang masa—tapi menjadi yang pertama dalam 74 turnamen yang ia ikuti. Para pemain aktif yang memiliki kemenangan melebihi koleksinya ialah Tiger Woods (82), Phil Mickelson (44), Dustin Johnson (20), Rory McIlroy (18), dan Jim Furyk (17).

Masa paceklik gelar ini memang tak seberat rangkaian hasil buruk yang ia raih pada 2009 usai mengalami cedera lutut akibat berselancar. Scott mengakui kondisinya kala itu mengkhawatirkan. Ia mengaku frustrasi dan menyebut telah mendorong dirinya terlalu keras ke arah yang keliru. Gelar Genesis itu pun menyelamatkan dan memberi dorongan baginya. Dan kemenangan itu turut membawanya kembali ke arah yang tepat.

”Target besar saya ialah menjuarai lebih dari satu gelar Major dan saya pikir kebiasaan untuk menang akan sangat bagus untuk mewujudkan impian itu,” ujar Scott.

Meskipun satu-satunya gelar Major yang ia raih menjadi kemenangan bersejarah pada Masters 2013—ketika ia menjadi pegolf Australia pertama yang meraih jaket hijau—Scott memiliki rekor tersendiri pada ajang besar itu. Dalam 74 ajang Major yang ia ikuti, 19 di antaranya ia akhiri dengan finis di 10 besar.

Tahun 2019 lalu, ia finis T8 pada U.S. PGA Championship, T7 pada U.S. Open, dan menjuarai Australian PGA Championship untuk kedua kalinya dalam kariernya. Ia tengah berada dalam jalur yang tepat ketika pandemi COVID-19 memaksa kompetisi untuk dihentikan sementara waktu.

 

 

”Saya pikir banyak prestasi yang masih bisa saya raih,” ujar Scott. ”Yang terutama ialah memenangkan kejuaraan Major. Itulah ukuran karier yang sesungguhnya dalam golf. Tapi untuk itu selalu ada proses untuk mencapainya. Anda tak bisa sekadar tampil dan menjuarai Major. Sesekali mungkin bisa terjadi. Anda beruntung bisa menang sekali, tapi jelas tidak demikian kalau bisa menjuarai lebih banyak Major.

”Untuk meraih apa yang ingin saya capai, saya tak bisa mengandalkan keberuntungan. Ada banyak usaha untuk mencapainya, tapi rasanya saya ada di jalur yang tepat. Ada banyak penyesuaian dalam kehidupan profesional dan pribadi dalam beberapa tahun terakhir. Butuh waktu untuk mengetahui bagaimana menyeimbangkan semuanya. Jadi, saya pikir sekarang saya ada di jalur yang tepat.”

Scott mengimbangi pencapaian Bruce Crampton sebagai pegolf Australia dengan gelar PGA TOUR terbanyak ketiga. Hanya Greg Norman (20) dan Jim Ferrier (18) yang menang lebih banyak.

Namun, gelar Major kedua bakal melambungkan Scott ke posisi yang lebih tinggi lagi. Ada 223 pemain yang telah menjuarai Major, tapi hanya 82—termasuk Norman—yang menang lebih dari sekali.

Lalu bagaimana dalam kerangka demikian Scott mendapat pengakuan untuk dinobatkan dalam Hall of Fame? Angka prestasinya saat ini menyamai pencapaian pegolf Amerika Hal Sutton. Keduanya telah sekali menjuarai ajang THE PLAYERS Championship dan satu Major. Tapi Sutton hanya delapan kali finis di sepuluh besar dalam 68 penampilannya pada ajang Major dan mengalami sembilan musim tanpa kemenangan secara beruntun dalam puncak kariernya. Sutton telah menjadi finalis untuk disertakan dalam World Golf Hall of Fame 2021 dan hampir pasti akan dinobatkan segera.

Ada satu catatan dalam resume Sutton, yang tidak dimiliki Scott. Hal itu ialah kepemimpinannya dalam tim internasional. Sutton menjabat sebagai kapten ketika Tim Ryder Cup AS tahun 2004 menelan kekalahan. Ia juga dikenang berkat keputusannya memasangkan Woods dan Mickelson yang dianggap keliru pada hari pertama.

 

Memasuki usia ke-40, Adam Scott masih yakin dirinya sanggup menjuarai lebih dari satu Major dan banyak gelar. Foto: Augusta National 2019.

 

Rasa Penasaran untuk Presidents Cup
Scott masih belum diminta untuk memimpin Tim Internasional Presidents Cup. Terutama lantaran ia masih memiliki peranan penting sebagai pemain. Sejauh ini ia telah sembilan kali masuk tim dan bertindak sebagai wakil kapten tak resmi bagi Ernie Els pada kompetisi di Royal Melbourne, Australia tahun 2019 lalu. Jelas ia merasa kecewa menyaksikan timnya yang telah unggul besar justru takluk oleh Tim AS di negerinya sendiri. Itu juga sebabnya ia jauh lebih berfokus membantu Tim Internasional menjuarai ajang ini ketimbang menjadi kapten.

”Rasanya bakal sangat mengecewakan jika mengikuti semua kesempatan dan tak sekali pun menjuarai Presidents Cup,” ujarnya. ”Rasanya saya kehilangan sesuatu. Dalam beberapa tahun terakhir, saya lebih berusaha untuk tim, dan sejauh ini belum ada hasilnya. Bukan hal yang menyenangkan melewati hari Minggu tanpa pernah menjuarai trofi itu.”

Trevor Immelman dari Afrika Selatan, yang juga merupakan Juara Masters, telah sepakat menjadi kapten tim untuk 2021. Scott hampir pasti bakal berada di garis berikutnya sebagai kapten, setidaknya pada 2023. Dan sementara ini, ia tengah berusaha memberi sentuhan kenormalan di Australia selama pandemi COVID-19.

Bulan Mei silam, ia menyiarkan langsung partai sembilan hole di Instagram menghadapi pegolf profesional Australia, Wayne Perske, di Maleny Golf Club, Queensland. Partai itu—dengan taruhan $5—berakhir imbang ketika Perske gagal memasukkan putt di hole terakhir.

Taruhannya akan lebih tinggi lagi ketika Scott kembali ke PGA TOUR musim panas ini. Penyesuaian jadwal 2019-2020 akan berpuncak pada TOUR Championship, 4-7 September di East Lake Golf Club, di Atlanta. Dan ia ingin meramaikan persaingan ke sana. Dan ia sudah siap.

”Saya punya pembawaan yang tenang, yang selalu cocok untuk berada di lapangan golf,” ujar Scott. ”Yang jelas saya bisa berjalan di lapangan dengan tenang. Mungkin hal ini bisa dibilang sebagai rasa percaya diri, tapi saya lebih suka menyebutnya ketenangan.”