Dua musim kompetisi sudah berlalu sejak Indonesian Golf Tour presented by LINC Group diluncurkan. Golf Asia Indonesia melihat Tour profesional ini dalam dua musim perdananya dan perannya dalam perkembangan golf di Indonesia.

Tanggal 21 Maret 2014 akan diingat sebagai momen bersejarah bagi dunia golf profesional di Indonesia. Saat itu Indonesian Golf Tour presented by LINC Group (IGT) diperkenalkan sebagai inisiatif baru untuk perkembangan golf profesional Indonesia. Dengan konsep unik memadukan para pemain profesional dan pemain amatir, termasuk amatir wanita, dalam satu turnamen, IGT menjadi wadah yang diharap bisa meningkatkan kualitas permainan para pegolf Indonesia, sekaligus mempersiapkan mereka bersaing di pentas regional dan internasional.

Mari melihat sejauh apa harapan peningkatan prestasi tersebut terbukti. Sejak 2014, total turnamen profesional skala nasional yang dilangsungkan mencapai 20 turnamen, 16 di antaranya termasuk ajang IGT—4 lainnya ialah PGP Classic 2014, Camry Invitational 2014, dan Panasonic Open 2014 & 2015. Dari 20 turnamen tersebut, sembilan juara berbeda telah lahir.

[columns]
[column size=”1/2″]

2 Tahun 10 Jawara - George Gandranata
George Gandranata

[/column][column size=”1/2″]

Kombinasi pemenangnya juga menarik untuk disimak. Empat di antaranya merupakan pemain yang masih berusia di bawah 30 tahun. Selain Ian Andrew yang masih berusia 23 tahun, ada Benita Y. Kasiadi yang berusia 28 tahun, sementara George Gandranata, Rinaldi Adiyandono, dan James Bowen yang sama-sama berusia 29 tahun. Sementara lima pemenang lainnya merupakan nama-nama yang sudah cukup lama menyandang status profesional, yaitu Denny A. Wijaya, Andik Mauludin, I Ketut Sugiarga, Rudi Anto, dan Junaidi Ibrahim.

[/column][/columns]

Meski merupakan pemenang termuda, Ian merupakan salah satu pemain tersukses dalam dua tahun terakhir ini. Sejak menjuarai PGP Classic 2014, pemain yang berdomisili di Bali ini telah mengumpulkan 3 gelar lain tahun ini. George dan Benita juga telah mengumpulkan tiga gelar profesional—George meraih gelar keempatnya pada ajang khusus, Annual Independence Day Golf Invitational Tournament 2014. Adapun Rinaldi Adiyandono telah menjuarai dua turnamen profesional, IGT Grand Final 2014 dan Panasonic Open Indonesia 2014—yang membawanya berlaga pada Panasonic Open India.

Keberhasilan keempat pemuda tersebut bisa menjadi bukti yang nyata bahwa mereka benar-benar memaksimalkan IGT sebagai tolok ukur karier masing-masing. Namun, bukan hanya mereka yang menikmati iklim kompetisi. I Ketut Sugiarta mewakili generasi senior yang masih siap memberi ancaman bagi para pemain muda. Pemain pro asal Padang Golf Modern ini berhasil menjuarai dua seri pada tahun 2014 lalu. Sementara pegolf asal Palm Spring, Batam, Denny A. Wijaya sukses membawa pulang trofi Indonesian Golf Challenge 2014, Rudi Anto pun tertular gelar juara ketika ia berhasil memenangkan IGT Seri II tahun 2015. Sementara nama-nama, seperti Maan Nasim dan Ketua PGA Tour of Indonesia Johanes Dermawan masih menunjukkan kemampuannya untuk bersaing.

[columns]
[column size=”1/2″]

Selain kompetisi yang ketat, kualitas permainan para pegolf profesional ini pun turut meningkat. Skor kemenangan hingga musim lalu masih berselisih 1 atau 2 stroke dari tempat kedua. Selain itu, jumlah pemain yang bisa bermain under kini bertambah banyak. Jika pada 2014 turnamen dengan pemain terbanyak yang mendapat under mencapai 15 orang, yaitu pada PGP Classic di Senayan National Golf Club, pada 2015 lalu, angka tersebut diperbaiki menjadi 16 pemain, yaitu pada Seri I musim 2015 yang dilangsungkan di Padang Golf Matoa Nasional.

[/column][column size=”1/2″]

2 Tahun 10 Jawara - James Bowen
James Bowen

[/column][/columns]

Sementara peningkatan dari segi skor ini terjadi juga pada sejumlah seri. Selain pada Seri I di Matoa itu, jumlah pemain yang bisa bermain under pada Seri VI, VII, dan Grand Final jauh lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya ketika turnamen diadakan di Lotus Lakes Golf Club, Emeralda Golf Club, dan Imperial Klub Golf.

Sebagian pemain lainnya masih membutuhkan latihan dan konsistensi untuk mempertahankan momentum yang mereka raih. Pemain-pemain, seperti Indra Hermawan, Maan Nasim, Asep Saefulloh, bahkan Ilyassak masuk kategori tersebut setelah dalam beberapa seri mereka sebenarnya sempat berpeluang menjadi juara.

Sementara dari sisi amatir, dalam sejumlah turnamen para pemain amatir juga tampak mulai sanggup bersaing dengan para pemain profesional. Jo Se-ik, Kevin C. Akbar, dan Elky Kow menjadi sejumlah pemain amatir yang menonjol dan menjadi penantang yang tangguh dengan masing-masing sempat menikmati posisi runner-up.

  • Teks Raka S. Kurnia
  • Foto Taufik Dwilesmana